Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia
Andalusia atau yang sekarang kita kenal dengan Spanyol, merupakan
Negara yang pernah berada dibawah kekuasaan Islam. Menurut Dudung Abdurrahman
dkk, dalam bukunya “Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern”
menuturkan bahwa Andalusia dahulu merupakan kekuasaan bangsa Gothia kemudian
ditaklukkan oleh bani Umayyah yang dipimpin oleh panglima Thariq bin Ziyad. Selama
berada dibawah kekuasaan Islam, Andalusia pernah mengalami masa keemasan pada
masa kekhalifahan Abdurrahman an-Nashir atau Abdurrahman III. Pada masa ini
terjadi perkembangan pesat dalam berbagai bidang, baik dari segi peradaban
maupun kebudayaan. Banyak para tokoh yang berkontribusi dalam kemajuan Islam Andalusia,
diantara mereka ada yang terkenal dan tak sedikit pula yang dilupakan sejarah.
Dalam artikel ini penulis akan membahas tentang para tokoh yang memiliki
pengaruh besar dalam bidang kedokteran pada masa Bani Umayyah Andalusia.
Ada beberapa tokoh yang berperan aktif dalam kemajuan di bidang
kedokteran pada masa Bani Umayyah Andalusia, yang kami temukan dari beberapa
sumber diantaranya adalah Abu Yusuf
Ya`qub Ibn Ishaq as-Sabbah al-Kindi 801-873, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria
ar-Razi 865-925, Abul Qasim Khalaf Ibn al-Abbas az-Zahrawi 936-1013, Abu Ali
al-Husain bin Abdullah bin Sina 980-1037,
Abu Walid Muhammad bin Rusyd 1126-1198, dan al-Din Abu al-Hasan Ali ibn al-Hazm
al-Qarshi al-Dimasyqi 1213-1288. Dalam paragraf selanjutnya akan dibahas secara
detail apa saja kontribusi dari masing-masing tokoh.
Menurut sumber yang penulis temukan Abu Yusuf Ya`qub Ibn Ishaq
as-Sabbah al-Kindi atau yang biasa kita kenal dengan al Kindi dikenal sebagai
filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Dia juga salah seorang ilmuwan
besar muslim dalam bidang kedokteran dan pemilik salah satu pemikiran terbesar
yang dikenal sepanjang peradaban manusia. Ia dilahirkan di Kufah pada tahun 801
M dan wafat pada tahun 873 M. Dr. Abdul Halim Muntashir dalam bukunya “Tarikh
al Ilm” mengatakan bahwa al Kindi telah menulis sebanyak 230 buku, 22 buku
diantaranya mengenai ilmu kedokteran dan banyak memisah-misahkan spesialisasi
dalam bidang kedokteran yang penting, sebagaimana dia juga telah mendahului
penggunaan musik sebagai salah satu alat untuk mengobati beberapa penyakit.
Diantara karya al Kindi di bidang kedokteran adalah Kitab “ath-Thib al-Bagruthi,
Kitab ath-Thib ar-Rauhani, dll”. Disebutkan pula karangan al Kindi yang
terkenal adalah “Ilmu Mata” yang sekarang telah diterjemahkan menjadi Optics.
Selanjutnya Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi yang dikenal
dengan julukan ar Razi dan di daerah barat dikenal dengan nama Razhes atau
Rasis merupakan tokoh terkemuka pada masa keemasan Islam. Ia sering dijuluki
sebagai Galen-nya arab. Galen adalah seorang dokter dan filosof yang Yunani
yang sangat terkenal. Ar Razi dilahirkan di Rayy, Iran pada tahun 846 M dan
wafat pada tahun 925 M. Sejak kecil ia memang dikenal dengan minatnya yang
sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Dalam mempelajari ilmu kedokteran ia
dibimbing oleh Ali Ibn Sahl Robban at-Tabari yang memiliki sekolah kedokteran dari
Tabaristan atau Hyrcania. Ar Razi memberikan kontribusi yang sangat besar dalam
bidang kedokteran dan karya tulis. Sejarah menyebutkan bahwa karyanya mencapai
200 karya dalam bentuk buku maupun artikel, 40 diantaranya mengenai kedokteran
yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Dalam kehidupan sehari-hari ia
berprofesi sebagai dokter kemudian menjadi kepala rumah sakit Rayy dan Baghdad.
Sebagai seorang dokter ar Razi juga merupakan seorang pelopor Optalogi yang
memberitahukan tentang Humoralism untuk membedakan satu penyakit menular dengan
penyakit lain. Selain itu ia juga mendiagnosa penyakit cacar dengan karyanya small-pax
yang artinya “cacar”, “aj Judari wa al Hasbah” yang diterjemahkan kedalam
bahasa inggris oleh J. Ruska dan kemudian diterbitkan dengan judul ar-Razis
Buch: Geheimnis der Geheimnesse. Sehubungan dengan itu ia dianggap dokter
pertama yang meneliti tentang penyakit cacar. Selain memperkenalkan tentang
cacar ia juga melakukan pengobatan khas dengan pemanasan syaraf, mengungkapkan
pengobatan Kai (mirip akupuntur), menemukan alkohol, menciptakan asam sulfur,
dan memelopori bedah saraf dan bedah mata.
Pada tahun 936 di kota al-Zahra lahir seorang dokter, ahli bedah,
maupun ilmuan yang merupakan penemu gips pertama kali di era Islam, ia
adalah Abul Qasim Khalaf Ibn al-Abbas az-Zahrawi yang kita kenal dengan
az-Zahrawi, di Barat dikenal sebagai Abulcasis. Dia merupakan penemu asli dari
teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang
dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia
sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern
ini. Karya terkenalnya adalah “al-Tasrif”, kumpulan praktik kedokteran yang
terdiri atas 30 jilid. Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran,
termasuk di antaranya tentang gigi dan kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan
ke bahasa Latin oleh Gerardo dari Cremona pada abad ke-12, dan selama lima abad
Pertengahan, buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran
di Eropa. Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai
dokter pribadi Khalifah al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang
merupakan putra dari Khalifah Abdurrahman III (an-Nasir). Kehebatan al Zahrawi
sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi, salah satu sumbangan pemikiran
al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern
adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang
agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Ar Razi wafat pada tahun 1013
M.
Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina atau ibnu sina yang juga
terkenal dengan julukan Avicenna adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga
dokter kelahiran Persia. Ibnu Sina lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat
Bukhara, wilayah Persia dan meninggal
pada tahun 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Ia juga seorang penulis yang
produktif, sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Menurut
George Sarton karya ibnu sina mencapai 450 buah yang berupa buku, jurnal, esai,
syair, dan puisi. Tidak seperti ilmuwan sekarang yang hanya fokus pada satu
atau dua bidang saja, karya-karya ibnu sina mencakup banyak bidang termasuk
kimia, fisika, kedokteran, filsafat, sastra, theology, psikologi, astronomi,
geologi, musik, politik, dan enginering. Karyanya yang paling terkenal adalah “al-Qanun
fi at Thibb” dan diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul The Book
of Healing dan The Canon of Medicine yang merupakan referensi di
bidang kedokteran selama berabad-abad. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai
"bapak kedokteran modern". Ada pula yang menyebut Ibnu Sina "ilmuwan paling
terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang,
tempat, dan waktu". Termometer, aromaterapi, rumah sakit jiwa, dan
destilasi uap adalah beberapa temuan Ibnu Sina yang terpakai hingga sekarang.
Pada tahun 1126 M lahir seorang filsuf dari Andalusia, ia adalah
Abu Walid Muhammad bin Rusyd atau yang biasa dikenal dengan Ibnu Rusyd dan di
Barat dikenal dengan sebutan Averroes. Ibnu Rusyd adalah seorang ilmuwan yang
cerdas dan menguasai banyak bidang ilmu seperti tafsir al-Qur`an, fisika,
biologi, filsafat, astronomi, sastra, logika, hadis ataupun dalam hukum fiqih.
Ia juga dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang kedokteran. Disela-sela
kesibukannya sebagai seorang dokter, Ibnu Rusyd menyempatkan diri untuk
menulis. Ia menghasilkan lebih dari dua puluh buku kedokteran. Bahkan karya
terbesarnya dalam bidang kedokteran yaitu “al Kulliyat fi at Thib” telah
menjadi rujukan utama dalam hal kedokteran dan telah diterjemahkan kedalam
bahasa inggris dengan judul General Rules of Medicine juga telah
beberapakali dicetak ulang. Ibnu Rusyd adalah seorang dokter perintis ilmu
jaringan tubuh (Histology), peneliti pembuluh darah dan cacar. Para penulis
sejarah mengungkapkan kedalaman pemahaman Ibnu Rusyd dalam bidang kedokteran
dengan mengatakan “Fatwanya dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana fatwanya
dalam fiqih.semua itu disebabkan kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya. Sebagian
sumber menyebutkan bahwa ibnu Rusyd meninggal pada tahun 1198 dikarenakan
kelelahan.
Selanjutnya adalah al-Din Abu al-Hasan Ali ibn al-Hazm al-Qarshi
al-Dimasyqi atau yang sering disebut dengan Ibn al-Nafis. Ia lahir di Damaskus
pada tahun 1213 dan wafat di Kairo pada tahun 1288. Ia belajar kedokteran di Collage
Hospital Medical di Damaskus. Selain belajar kedokteran ibn al-Nafis juga
belajar ilmu hukum, sastra, dan teologi, sehingga ia dikenal sebagaiorang yang
ahli dalam bidang hukum fiqih dan kedokteran. Keseharian ibn al-Nafis ialah
sebagai kepala dokter di rumah sakit al-Mansuri dan menjadi dokter pribadi
Sultan. Ia merupakan dokter Arab pertama yang menggambarkan sirkulasi darah
pada paru-paru, ia termasuk orang pertana yang menggambarkan konstruksi paru
dengan benar, memberikan deskripsi bronkus dan interaksi antara pembuluh tubuh
manusia untuk udara dan darah. Ia juga memaparkantentang fungsi arteri koroner sebagai
pemasok darah ke otot-otot jantung. Karyanya yang paling tebal tentang
kedokteran ialah “al-Syamil fi al-Thib” yang terdiri dari 300 volum, namun
tidak dapat selesai karena kematiannya.
Demikian para dokter yang memberikan kontribusi sangat besar pada
masa Bani Umayyah Andalusia yang dapat penulis temukan dari beberapa buku,
makalah, dan artikel. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, al Nafis merupakan
dokter terakhir yang hidup dibawah kepemimpinan Bani Umayyah Andalusia. Karena
di akhir abad ke-14 dinasti ini mengalami kelemahan yang disebabkan oleh
berbagai faktor dan pada akhirnya kekuasaan islam di Andalusia kembali direbut
oleh pihak Kristen.
Komentar
Posting Komentar