Bali, Banyuwangi, Yogyakarta dalam Tradisi Nyepi


Hari suci Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dilaksanakan sebagai tanda pergantian tahun saka dan dimulai sejak tahun 78 Masehi. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi dan masyarakat Hindu berhenti dari semua kegiatan di hari suci ini. Tujuan utama hari raya Nyepi adalah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa (sanghyang widhi wasa) untuk menyucikan Bhuana Alit (Alam Manusia/ Microcosmos) dan Bhuana Agung (Alam Semesta/ Macrocosmos).  


Tahun ini hari raya Nyepi jatuh pada tanggal 9 maret 2016 (1 saka 1938) atau jatuh pada hitungan pinanggal apisan Sasih Kasada, atau tanggal pertama atau kesatu bulan kesepuluh dalam kalender Hindu. Menjelang perayaan hari suci ini umat Hindu melakukan beberapa rangkaian upacara sebelum akhirnya melakukan tapa Brata (Nyepi) pada puncak rangkaian acara tersebut. 


Membaca dari beberapa media, penulis mengalami kebingungan karena menemukan beberapa perbedaan antara rangkaian upacara di suatu daerah dengan daerah yang lain di Indonesia. Disini penulis mengambil contoh perayaan hari raya Nyepi di Bali, Banyuwangi, dan Yogyakarta. Terdapat beberapa perbedaan rangkaian upacara dilihat dari beberapa aspek. Apakah memang ada perbedaan rangkaian upacara antara satu daerah dengan daerah lain, atau dikarenakan keterbatasan sumber yang penulis dapatkan sehingga tidak maksimal dalam meliput perayaan nyepi tersebut. Berikut akan penulis paparkan rangkaian upacara menjelang hari raya Nyepi dari tiga daerah di Indonesia.

Sebagaimana dikutip dari Kompasiana.com, ada beberapa rangkaian upacara yang dilakukan oleh umat hindu Bali, diantaranya adalah Melasti yang dilakukan dengan mengarak segala sarana persembahyangan yang ada di Pura ke pantai atau danau untuk disucikan. Upacara ini dilakukan tiga atau dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Kemudian dilanjutkan dengan “Pecaruan/ pengerupukan” atau disebut juga Tawur Kesanga karena upacara ini dilakukan pada tilem kesanga atau pada bulan mati bulan ke sembilan pada perhitungan kalender Bali. Biasanya upacara pengerupukan diisi dengan ritual seperti menyebar-nyebar nasi tawur, mengobor-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan “mesiu”, serta memukul benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara gaduh yang dimaksudkan untuk mengusir buta kala dari lingkungan sekitar. 

Dan yang lebih menarik sebelum diadakan upacara tersebut para warga yang didominasi anak-anak muda mengarak ogoh-ogoh (boneka raksasa) sebagai perlambang Bhuta kala dengan berbagai bentuk. Setelah ogoh-ogoh diarak, dilanjutkan dengan upacara Pecaruan, seusai pelaksanaan upacara dan ogoh-ogoh tersebut dibakar untuk menghilangkan hal-hal yang berbau jahat dan buruk. Selanjutnya merupakan acara puncak yakni umat Hindu melakukan ritual Catur Brata Penyepian (hari raya nyepi) yang mencakup: 

Amati Geni artinya tidak menyalakan api secara lahir (tidak merokok, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan lampu, dll) dan secara batin sebagai upaya untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif; Amati Karya yaitu tidak bekerja secara lahir dan menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung/mawas diri secara jasmani; Amati Lelungan yaitu tidak mengadakan acara bepergian dan tidak mengganggu ketenangan orang lain;  dan Amati Lelaungan yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi dan bersenang-senang. 

Oleh sebab itu pada hari raya nyepi umat Hindu melakukan tapa atau yoga dengan maksud sebagai sarana untuk mengoreksi total  apa yang dilakukan pada waktu yang lalu tentang pelaksanaan trikaya (kayika atau perbuatan, wacika atau perkataan, dan manacika atau pikiran) dan berusaha melakukan yang terbaik dengan merencanakan trikaya parisuda (trikaya yang suci) di waktu yang akan datang. Tapa Brata ini dilakukan selama 24 jam dimulai dari terbitnya fajar sampai terbit fajar pada hari berikutnya. Sebagai akhir dari pelaksanaan Catur Brata umat Hindu melakukan upacara Ngembak Geni dengan melaksanakan Dharma Santi seperti saling mengunjungi antar umat untuk saling memaafkan. 

Ada satu tradisi unik setelah perayaan nyepi berupa Omed-Omedan (ciuman massal) yang tetap dilestarikan oleh Krama Sekaa Teruna Teruni (STT) atau komunitas remaja di Banjar Kaja, Sesetan Denpasar. Konon tradisi tersebut dilakukan untuk menghormati leluhur dan TuhanYang Maha Esa dan memiliki makna sosial tinggi dengan memupuk rasa kesetiakawanan dan kebersamaan serta sebagai ritual tolak bala.   


Selanjutnya sebagaimana liputan beritajatim.com umat Hindu di Banyuwangi juga menyambut hari raya Nyepi dengan serangkaian upacara diatas namun sedikit perbedaan dari pelaksanaan Nyepi di Bali, diantaranya adalah sebagaimana disebutkan bahwa umat hindu banyuwangi melaksanakan upacara Melasti dengan disertai ritual mandi dan menceburkan diri di laut atau danau dan ketika mengarak ogoh-ogoh diiringi gamelan bleganjur, sedangkan umat hindu bali dalam melaksanakan Melasti hanya mengarak dan menyucikan sarana persembahyangan di pura dan tidak disebutkan adanya iringan bunyian. Di Banyuwangi juga tidak ada tradisi Omed-Omedan (ciuman missal) setelah perayaan nyepi sebagaimana yang terdapat di Bali.


Berikutnya yogYes.com meliput  hari raya Nyepi di Daerah istimewa Yogyakarta, rangkaian upacara dalam perayaan Nyepi di Yogyakarta serupa dengan rangkaian upacara di daerah Banyuwangi hanya saja tidak disebutkan adanya iringan gamelan ketika sarana persembahyangan diarak dalam upacara Melasti, dan juga dilaksanakannya sebagian upacara di beberapa candi Hindu seperti Prambanan yang juga membedakannya dengan pelaksanaan rangkaian upacara di Banyuwangi. 


Beberapa perbedaan diatas penulis temukan dari beberapa sumber. Mengenai benar atau tidaknya perbedaan tersebut tidak dapat dipastikan dengan jelas karena keterbatasan sumber dan tidak ada penelitian lapangan dikarenakan keterbatasan waktu. Ada pula perbedaan yang sangat mencolok dari perayaan Nyepi di pulau Bali dan pulau Jawa yaitu perayaan Nyepi di Pulau Bali berpengaruh sangat besar bagi lingkungan, tidak hanya bagi umat Hindu namun bagi umat beragama lain yang tinggal di pulau Bali. 

Pada saat puncak pelaksanaan hari raya Nyepi semua orang yang tinggal di Bali juga akan merasakan heningnya pelaksanaan Catur Brata, bukan mengikuti ritual mereka, akan tetapi hanya sebagai bentuk toleransi umat beragama. Semua aktivitas akan dihentikan baik itu di pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, Bandar udara  kecuali rumah sakit. Pulau Bali gelap gulita pada pelaksanaan Catur Brata tersebut karena mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu. 

Sedangkan perayaan Nyepi di pulau Jawa tidak terlalu berpengaruh bagi penganut agama lain karena tidak ada penghentian aktivitas massal pada saat pelaksanaan Catur Brata, hanya penganut agama Hindu saja yang melaksanakan tapa tersebut. Karena mayoritas penduduk pulau Jawa beragama Islam sekalipun terdapat banyak penganut agama lain yang tinggal di dalamnya. Demikian informasi perayaan nyepi yang bisa penulis dapatkan dari beberapa sumber.      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an