Tantangan Ekonomi Generasi Milenial Indonesia


Sebagaimana yang telah diketahui, ada lima generasi yang muncul setelah perang dunia II yaitu generasi Baby Boomers, generasi X, dan generasi Y atau yang lebih dikenal dengan generasi milenial, generasi Z dan Generasi A. Sebuah generasi menggambarkan keadaan atau situasi, dimana setiap individu mempunyai pengalaman hidup yang dilalui, dapat menggambarkan siapa dirinya dan bagaimana melihat dunia dari kacamata sendiri. Setiap generasi mempunyai personaliti tersendiri. Setiap generasi mempunyai kepercayaan, nilai, budaya perspektif, kegemaran, apa yang tidak digemari, dan kemahiran terkait personaliti  terhadap kehidupan dan pekerjaan.

Generasi Baby Boomers tingkat kelahiran meningkat karena banyaknya pasangan yang berani untuk mempunyai banyak keturunan, lebih mengutamakan proses daripada hasil, suka berkomunikasi secara langsung, mudah dalam menjalin relasi (periang) namun belum mengenal kecanggihan teknologi. Generasi X, pada generasi ini tingkat kelahiran turun drastic, relasi antar sesame baik, sudah mendapatkan pendidikan yg cukup baik, dan generasi inilah awal mula penggunaan kecanggihan teknologi. Generasi Y atau Milenial, pada masa ini teknologi semakin berkembang ditambah lagi dengan hadirnya Internet, kreatif dan update namun cenderung manja. Pada generasi Z pendidikan sudah jauh lebih baik, lebih menampilkan penampilan seseorang atau produk, mulai terpengaruh media sosial  dan menjadi kecanduan. Sedang generasi A merupakan keturunan dari generasi X dan Y, generasi ini diprediksi merupakan generasi yang paling canggih sebab sejak lahir sudah akrab dengan kecanggihan teknologi dan orang tuanya pun merupakan orang yang melek teknologi, sosial media sudah menjadi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dengan karakter generasi milenial yang kehidupannya dikelilingi kecanggihan teknologi bahkan menjadi ketergantungan pada kecanggihan teknologi tersebut, lantas bagaimana seharusnya sikap mereka untuk menghadapi persaingan ekonomi sebagai bekal hidup di masa depan. Sebagaimana realita yang ada masa depan ekonomi semakin kompetitif, penuh dengan kejutan dan ketidakterdugaan, semakin sulit untuk diprediksi apalagi dikendalikan. Memang tak dapat dipungkiri saat ini ekonomi yang seharusnya memakmurkan seluruh rakyat akan tetapi kenyataannya hanya memakmurkan kelompok tertentu saja, kelompok yang berkuasa. Tidak dapat merubah kenyataan yang telah lalu, namun bagaimana menjadikan generasi millenial menjadi lebih baik dan siap menghadapi persaingan ekonomi di masa akan datang.

Rumusan Masalah
Bagaimana keadaan ekonomi Indonesia sejak awal pembangunan hingga memasuki generasi milenial?
Apa yang seharusnya dilakukan generasi milenial menghadapi persaingan ekonomi di masa akan datang untuk memulihkan krisis ekonomi di Indonesia?
Bagaimana pengaruh ekonomi bagi kemajuan suatu negara?

Hasil
Semenjak kemerdekaan diproklamirkan hingga saat ini, ternyata Indonesia selalu dilanda krisis ekonomi dan sosial. Pemerintahan demi pemerintahan yang silih berganti ternyata tidak mampu membangun sebuah perekonomian yang kokoh, memakmurkan, mensejahterakan dan adil bagi seluruh rakyat. Indonesia mengawali pembangunan nasionalnya dengan kondisi struktur dan infrastruktur yang porak poranda akibat warisan kolonialisme selama berabad-abad. Hingga akhir tahun 1965 hampir tidak ada indicator perekonomian yang menunjukkan adanya prestasi pembangunan ekonomi. Pendapatan perkapita tidak meningkat, bahkan seringkali mengalami penurunan, demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi. 

Melihat situasi dan kondisi perekonomian yang hampir bangkrut, maka pemerintah Orde Baru segera mengambil langkah untuk mengatasinya. Dari sisi pembangunan ekonomi, mungkin pemerintahan Orde Baru mendapat penilaian yang paling kontroversial. Banyak pihak mengakui bahwa pemerintahan ini relative berhasil memperbaiki perekonomian Indonesia. Disisi sebaliknya banyak penilaian negative bahwa prestasi ekonomi Indonesia adalah semu dan fundamental ekonomi yang rapuh. Krisis ekonomi yang berawal dari depresiasi rupiah terhadap dollar AS pada pertengahan 1997 benar-benar menjadi pembenar atas berbagai kritik terhadap prestasi pembangunan ekonomi selama pemerintahan Orde Baru. Kejatuhan pemerintahan Soeharto mewariskan kerusakan ekonomi dan non ekonomiyang serius. Pergantian kepada pemerintahan kepada Abdurrahman Wahid membawa banyak harapan akan perbaikan kehidupan ekonomi dan sosial politik. 

Naik turunnya nilai tukar rupiah, lambannya proses economic recovery, hingga tidak terselesaikannya dengan baik berbagai persoalan nasional Indonesia menurut penilaian publik karena kepemimpinan yang tidak visioner, manajemen pemerintahan yang kurang baik, serta gaya kepemimpinan yang kontroversial. Akumulasi berbagai permasalahan nasional yang terjadi sejak pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru nampaknya mengemuka sampai saat ini.


 Melihat kondisi seperti ini banyak pihak menghawatirkan tentang nasib pemulihan ekonomi bahkan memprediksi kemungkinan munculnya krisis yang lebih hebat. Sudah saatnya generasi milenial menyiapkan berbagai strategi yang lebih spektakuler sebagai langkah pemulihan ekonomi dan untuk menanggulangi krisis ekonomi pada saat ini. Kita tidak bisa kembali ke masa silam, yang bisa dilakukan hanyalah belajar dari kesalahan di masa silam dan memperbaikinya untuk kehidupan yang akan datang. 

Banyak strategi yang bisa dipesiapkan generasi milenial untuk memulihkan ekonomi Indonesia dan mensejahterakan rakyat seperti membuat strategi pembangunan yang lebih melibatkan rakyat, membangun industry yang mensejahterakan rakyat dan bukan hanya mensejahterakan segelintir orang, dll. Strategi-strategi tersebut merupakan tantangan yang harus bisa dilakukan generasi millennium jika ingin memulihkan ekonomi Indonesia dan bisa bersaing di Kancah Internasional. Untuk bisa bersaing di kancah internasional terutama dalam keadaan krisis ekonomi seperti saat ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan kepemilikan aset fisik semata melainkan perlu memadukannya dengan aset nir fisik berupa odal sosial, modal intelektual serta unsur-unsur lain seperti kreativitas dan inovasi atau yang lebih dikenal dengan ekonomi kreatif.

Sumber:
Hamid, Suandi. M.B. Hendri Anto. 2000. Ekonomi Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: UII Press.
Yustika, Ahmad Erani. 2006. Perekonomian Indonesia Deskripsi, Preskripsi, dan Kebijakan. Malang: Banyumedia Publishing.
Moelyono, Mauled. 2010. Menggerakkan Ekonomi Kreatif Antara Tuntutan dan Kebutuhan. Jakarta: Rajawali Press.
Yahya, Shahhanim. 2012. “Jurang Antar Generasi”. Dalam http://ippbm.gov.my. 24 Maret 2016.
Sugembong dan Sudarmoyo. 2007. “Fenomena Gen X dan Tantangannya di Tempat Kerja”. Dalam http://iatmi.or.id. 27 Maret 2016.

Komentar

  1. Thanks infonya, menarik banget. Oiya, ngomongin milenial, ternyata mereka juga sering loh buat kesalahan yang pada akhirnya bikin mereka susah untuk kaya. Apa aja kesalahannya, cek di sini: peluang milenial jadi kaya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an