Fenomena Dibalik Ritual Gunung Kemukus
Film Kemukus
merupakan dokumentasi hasil penelitian mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta. Film ini disutradai oleh M. Iqbal Muttaqin. Jika dilihat dari segi
bentuknya, sebenarnya film Kemukus ini lebih terlihat sebagai liputan suatu kegiatan
dan bukan terlihat seperti film pada umumnya yang dimainkan oleh seorang aktor,
berbentuk cerita, terdapat konflik dan terdapat tokoh protagonis, antagonis,
ataupun tritagonis yang hanya berbentuk fiktif. Dikarenakan film kemukus ini
meliput suatu realitas yang terjadi di masyarakat, maka tentulah ada metode
yang digunakan oleh pembuat film dalam proses pengumpulan informasi dan
pembuatan film.
Menurut pandangan penulis, dalam proses pembuatan film, sang sutradara beserta kru melakukan fieldwork atau yang sering dikenal dengan penelitian lapangan dengan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut dan berwawancara kepada semua pihak yang bersangkutan. Baik itu juru kunci tempat tersebut, para pemerintah setempat, atau bahkan kepada para pengunjung yang datang. Paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma kualitatif. Paradigma kualitatif menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural seting yang holistik, kompleks, dan rinci. Paradigma ini menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa sosial budaya. Dalam paradigma kualitatif “proses penelitian” lebih penting daripada “hasil” yang diperoleh. Karena hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan data, hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan. Latar tempat yang dipakai dalam film tersebut menunjukkan bahwa pembuat film atau peneliti benar-benar terlibat dan menyaksikan langsung kegiatan tersebut ketika proses pengumpulan data.
Menurut pandangan penulis, dalam proses pembuatan film, sang sutradara beserta kru melakukan fieldwork atau yang sering dikenal dengan penelitian lapangan dengan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut dan berwawancara kepada semua pihak yang bersangkutan. Baik itu juru kunci tempat tersebut, para pemerintah setempat, atau bahkan kepada para pengunjung yang datang. Paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma kualitatif. Paradigma kualitatif menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural seting yang holistik, kompleks, dan rinci. Paradigma ini menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa sosial budaya. Dalam paradigma kualitatif “proses penelitian” lebih penting daripada “hasil” yang diperoleh. Karena hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan data, hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan. Latar tempat yang dipakai dalam film tersebut menunjukkan bahwa pembuat film atau peneliti benar-benar terlibat dan menyaksikan langsung kegiatan tersebut ketika proses pengumpulan data.
Film ini menyajikan kenyataan suatu komunitas masyarakat yang masih
primitif dan percaya akan hal-hal mistis. Mereka masih melaksanakan laku ritual
yang diyakini akan dapat mengantarkan kepada hal yang diharapkan. Salah satunya
yang biasa dijadikan alasan adalah faktor ekonomi. Kebutuhan ekonomi yang semakin
tinggi mendorong masyarakat tertentu untuk melakukan berbagai cara agar
kebutuhannya terpenuhi. Film Kemukus ini memuat sebuah potret ritual yang
terletak di Gunung Kemukus. Gunung Kemukus teretak di desa Sumber Lawang kecamatan
Sragen Jawa Tengah. Bapak Saidi Rosit selaku kepala desa Pendem menuturkan
bahwa dulunya Kemukus hanya merupakan nama sebuah ketinggian, pegunungan atau
bukit yang dikelilingi oleh sungai dan sekarang telah ditinggali oleh penduduk.
Gunung Kemukus ramai dikunjungi orang karena didukung oleh mitos yang
berkembang di masyarakat. Di gunung kemukus ini terdapat sebuah makam, yakni
makam Pangeran Samudera yang selama ini dikeramatkan oleh banyak orang terutama
oleh penduduk sekitar. Orang-orang yang datang ke makam tersebut melakukan
ritual-ritual tertentu yang diyakini dapat mendatangkan kesuksesan.
Ada beberapa versi cerita tentang Pangeran Samudera. Satu sumber
mengatakan bahwa Pangeran Samudera adalah putra dari selir Prabu Brawijaya raja
di kerajaan Majapahit. Ada pula yang mengatakan bahwa Pangeran Samudera adalah
putra dari Raden Fatah, raja Demak yang hidup pada akhir kerajaan Majapahit.
Begitu pula mengenai kisah cinta sang Pangeran juga terdapat beberapa versi.
Mohammad Widarto selaku juru kunci makam mengatakan bahwa Pangeran memiliki
hubungan cinta dengan Nyi Ontrowulan yang merupakan ibu tirinya sendiri. Konon Pangeran
diusir dari rumahnya, sampai di daerah Kemukus Pangeran Samudera sakit, disusul
oleh ibu tirinya, dan ibunya sebelum naik ke gunung kemukus terlebih dahulu
mandi di sendang sehingga sekarang diberi nama sendang Ontrowulan. Sedangkan
pemaparan Tukul selaku juru kunci sendang ialah bahwa ketika disuruh menyusul
putranya, Nyi Ontrowulan sakit, akhirnya ia meninggal bersama putranya. Sebelum
meninggal ia berwasiat nanti jika ia meninggal agar dimakamkan di gunung yang
seperti ada kukusannya, maka dari itu kemudian dinamakan gunung Kemukus. Sedangkan Nur Sugianto
selaku juru kunci sendang mengatakan
bahwa dinamakan sendang Ontrowulan karena setiap bulan jadi ontran-ontran
(pembicaraan) maka dinamakan Ontrowulan.
Meskipun ada berbagai versi cerita tentang Pangeran Samudera, tidak
menyebabkan makamnya sepi dari peziarah apalagi pada malam jumat pon dan malam
satu syuro. Karena pada malam-malam tersebut diyakini sebagai malam yang baik
untuk memanjatkan permohonan di makam Pangeran Samudera. Dari berbagai versi
tersebut kemudian menjadi awal muncul
laku ritual para peziarah jika ingin permohonannya terkabul.
Ada beberapa ritual yang biasa dilakukan para peziarah jika
berkunjung ke makam Pangeran Samudera. Para peziarah terlebih dahulu pergi ke
sendang Taruno, membeli air, kemudian juru kunci mendoakan dengan membakar
kemenyan, menabur bunga dan memanjatkan doa. Selanjutnya menuju sendang Ontrowulan,(setiap
tempat yang dikunjungi dibutuhkan bunga sebgai kelengkapan laku ritual)
memberkatkan air pada kepulan kemenyan, dan berdoa. Dilanjutkan dengan ritual
di makam pangeran samudra yakni berdoa di samping makam. Biasanya para juru
kunci di masing-masing sendang akan menanyakan nama peziarah, asal daerah, dan
tujuan yang diharapkan.
Untuk kesempurnaan ritual di makam Pangeran Samudera, para peziarah
dianjurkan melakukannya sebanyak 7 kali berturut turut pada hari-hari tertentu
yakni malam jumat pon, jumat kliwon, dengan mengadakan selamatan pada ritual
ketujuh yang dipimpin oleh juru kunci makam. Bahkan ada yang meyakini bahwa seks
merupakan salah satu ritual agar permohonan dpt terkabul, dalam hal ini
peziarah harus melakukan persetubuhan selain dengan pasangannya. Mitos ini
muncul terkait kisah perselingkuhan pangeran dengan ibu trinya. Namun tidak
semua peziarah yang datang setuju dengan laku ritual seks tersebut.
Adanya kepercayaan laku ritual tersebut dimanfaatkan oleh warga
sekitar sebagai mata pencaharian. Ada yang memanfaatkannya dengan menjual bunga
sebagai kelengkapan ritual, menjual pakaian, makanan, bahkan sewa kamar bagi
peziarah yang yakin terhadap ritual seks. Adapula PSK dan Mucikari yang
berperan didalamnya.
Dalam proses pengumpulan data, peneliti juga memperhatikan kode
etik atau hal-hal yang tidak bisa ditampakkan pada publik. Seperti ketika
mewawancarai Mucikari dan mewawancarai seorang PSK, peneliti menyamarkan gambaran
wajah dan menyamarkan suara agar identitas narasumber tidak diketahui.
Menurut penulis kekurangan dari film ini yakni sebagaimana telah disebutkan
di awal bahwa film Kemukus ini terlihat seperti liputan atau berita mengenai
suatu kegiatan bukan seperti film pada umumnya. Selebihnya film ini sangat
bagus karena bisa menambah wawasan. Dari
film ini pula kita bisa mengetahui realitas yang ada di masyarakat dan
menyaksikan perjuangan rakyak kecil untuk mencapai kesuksesan demi memenuhi
kebutuhan hidup ditengah berkembang dan ketatnya perrsaingan ekonomi.
Komentar
Posting Komentar