Toleransi Bukanlah Sinkretisme



Islam merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna agama-agama yang ada sebelumnya dan juga sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam dalam kitab al-Qur`an mengajarkan banyak hal bagi umat yang memeluknya, salah satunya yang kita kenal dengan toleransi.  Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya, dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Istilah toleransi tidak hanya digunakan dalam kepercayaan saja, namun juga digunakan dalam hal lainnya seperti partai politik, perbedaan suku, budaya, dll.
Selain toleransi tentu kita juga tak asing lagi dengan istilah sinkretisme. Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan. Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukan berbagai unsur aliran atau faham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian dan keseimbangan. Bukan hanya dalam kepercayaan, sinkretisme umumnya juga terjadi di sastra, musik, memperwakilkan seni dan juga ekspresi budaya. Sinkretisme mungkin terjadi di arsitektur, sinkretik politik, meskipun dalam politik memiliki arti sedikit berbeda. Salah satu contoh bentuk gerakan sinkretisme adalah genocticisme yang mencampurkan antara filsafat yunani, agama yahudi, dan agama kisten di eropa dan amerika utara. Ada juga ajaran budha mahayana yang merupakan pencampuran antara ajaran agama budha dengan agama hindu pemuja dewa siwa.   
            Kita sebagai umat muslim dan tinggal dibawah naungan negara yang notabenenya tidak hanya terdiri dari satu agama, akan tetapi ada beberapa agama, bahkan suku, ras bahasa, juga kebudayaan, sudah selayaknya menerapkan sikap toleransi. Toleransi dalam islam merupakan persoalan yang menarik dan penting untuk dikaji, karena banyak dikalangan umat islam yang memahami toleransi dengan pemahaman yang kurang tepat. Misalnya, kata “toleransi” dijadikan landasan paham pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama itu benar atau dijadikan alasan untuk memperbolehkan seorang muslim dalam mengikuti acara-acara ritual non-muslim. Lebih tragis dan ironis lagi, kata toleransi dipakai oleh sebagian orang islam untuk mendukung eksistensi aliran sesat baik secara sadar maupun tidak sadar. Seolah-olah dengan itu semua akan tercipta tolenrasi sejati yang berujung kepada kerukunan antar umat beragama, padahal yang dikorbankan adalah akidah umat Islam. Banyak orang muslim mengucapkan “selamat natal” kepada rekannya yang non-muslim karena menganggap itu hanya sebagai kata-kata, mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan sebenarnya adalah sikap sinkretisme yang dilarang dalam islam jika itu menyangkut tentang keyakinan. Hal semacam ini pula yang menyebabkan Buya Hamka memilih meninggalkan jabatan sebagai ketua MUI ketika didesak pemerintah untuk mengucapkan “Selamat Natal” yang meskipun anggapan hanya berupa kata-kata keakraban atau toleransi, namun disisi lain nilainya justru menunjukkan kerendahan akidah seorang hamba yang tidak faham dan tidak mengerti akan konsep ilmu agama akan tetapi hanya faham ilmu-ilmu umum yang sifatnya tidak kekal, tidak berimbas kepada keselamatan akhirat yang abadi.   
            Pemahaman yang berbeda dikalangan muslim tertentu tentang ajaran normatif dalam agama memunculkan persoalan rumit dalam menentukan manakah sinkretisme dan manakah yang bukan. Sebagaimana dikutip dalam republika, beberapa contoh paling dramatis dari gerakan-gerakan sinkretis terbuka ditemukan di Afrika barat, Asia selatan, Asia Tenggara, dan bagian lain dimana umat muslim bersinggungan secara langsug dengan non-muslim. Konon di banyak bagian Afrika penyebaran sinkretisme memberikan kontribusi pada presepsi bahwa islam sebagai salah satu sumber kekuatan mistis. Dengan memfasilitasi penduduk untuk melakukan ritual-ritual dan adat istiadat islam, berarti pula sebagai jalan masuk penerimaan mereka terhadap islam. Praadaptasi sinkretis tampak memainkan peran penting yang serupa praadaptasi sinkretis tampak memainkan peran penting yang serupa dalam perpindahan orang-orang hindu di asia selatan kealam islam.
               Oleh karena itu diperlukan kajian tentang bagaimana sesungguhnya konsep toleransi dalam islam baik berdasarkan al-qur`an maupun hadis yang belakangan ini sangat kabur. Pengertian toleransi dalam ajaran Islam adalah pengakuan adanya kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama yang menjadi keyakinannya dan kebebasan untuk menjalankan ibadahya. Ajaran toleransi beragama dalam Islam bukanlah merupakan masalah baru, melainkan telah dipraktikkan oleh nabi Muhammad SAW sejak kurag lebih 12 abad yang lalu. Hal itu sungguh telah dilaksanakan oleh Rasulullah dalam berbagai peristiwa termasuk dalam kehidupan sehari-hari beiau. Dalam masalah toleransi ini juga antar umat beragama ini juga sudah dijelaskan dalam al-Qur`an dan Hadis yang kedua-duanya merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat Islam yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran yang jelas tentang tata cara hidup bermasyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur`an surah al-Kafirun : 6  yang artinya “Bagi kalian agama kalian dan bagi saya agama saya”. Ayat ini tidak difahami bahwa Rasulullah diminta untuk mengakui kebenara agama mereka. Ini sifatnya hanya membiarkan sementara kepada mereka atas keyakinan yanga mereka anut jika saja Islam belum bisa diterima dihati mereka. Atas dasar bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Sebagaimana seorang muslim diminta untuk membiarkan mereka melaksanakan keyakinan agama mereka, inilah solusi yang tepat menghadapi perbedaan aqidah dalam kehidupan bermasyarakat. Biarkan mereka melakukan ritual ibadah mereka, jangan mengganggu dan tidak diperkenankan pula untuk ikut beribadah dihadapan tuhan mereka dengan cara penyembahannya yang khusus itu, karena memang kita sebagai seorang muslim juga mempunyai akidah, dengan ajaran berbeda, dan dengan cara penyembahan yang berbeda pula yang semestinya tidak bleh diganggu pula oleh mereka.       
Dalam hadis rasulullah SAW ternyata cukup banyak ditemukan hadis-hadis yang menjelaskan tentang toleransi. Salah satu contohnya adalah hadis riwayat Bukhori yang artinya: Pada suatu hari nabi ditanya oleh sahabatnya “agama manakah yang paling dicintaioleh Allah SWT?  maka beliau bersabda “yang lurus lagi toleran”. Berdasarkan hadis tersebut dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang toleran dalam berbagai aspeknya, baik dari aspek akidah maupun syari`ah, akan tetapi toleransi dalam Islam lebih dititik beratkan pada wilayah muamalah bukan pada akidah. Inilah toleransi dalam beragama yang diajarkan Islam. Buka sinkretisme sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an