Unsur-unsur dan Pandangan Teori Sosial Mengenai Sistem Ritual
Konsep
R. Otto Terhadap Sikap Kagum-Terhadap Hal yang Ghaib.
Menurut Otto semua
system religi, kepercayaan dan agama di dunia berpusat kepada suatu konsep
tentang hal yang ghaib (mysterium) yang dianggap maha-dahsyat (tremendum)
dan keramat (sacer) oleh manusia. Hal yang ghaib serta keramat itu
memiliki sifat-sifat yang sebenarnya tak mungkin dapat dicakup oleh pikiran dan
akal manusia. Hal ghaib dan keramat yang menimbulkan sikap kagum-terpesona
tersebut selalu akan menarik perhatian manusia dan mendorong timbulnya hasrat
untuk menghayati rasa bersatu dengannya.
Teori W. Robertson Smith Tentang Upacara Bersaji.
Robertson Smith mengemukakan
tiga gagasan penting mengenai asas-asas religi dan agama pada umumnya. Gagasan pertama,
mengenai soal bahwa disamping system keyakinan dan doktrin, sistem upacara juga
merupakan suatu perwujudan dari religi yang memerlukan studi dan analisa yang
khusus. Hal yang menarik perhatian Robertson Smith adalah bahwa dalam banyak
agama upacaranya itu tetap, tetapi latar belakang, keyakinan, maksud, dan
doktrinnya berubah. Gagasan kedua, adalah bahwa upacara religi, yang
biasanya dilaksanakan oleh masyarakat
pemeluk agama yang bersangkutan bersama-sama mempunyai fungsi sosial
untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat. Motivasi mereka tidak terutama
untuk berbakti kepada dewa atau tuhannya, atau untuk mengalami kepuasan
keagamaan secara pribadi, tetapi juga karena mereka menganggap bahwa melakukan
upacara adalah suatu kewajiban sosial. Gagasan ketiga, adalah teorinya
mengenai fungsi upacara bersaji. Upacara bersaji dimana manusia menyajikan
sebagian dari hewan, terutama darahnya, kepada dewa, kemudian memakan lagi sisa
dagingnya, oleh Robertson Smith juga dianggap sebagai suatu aktivitas untuk
mendorong rasa solidaritas dengan dewa atau para dewa. Dalam hal itu dewa
dipandang juga sebagai warga komunitas, walaupun sebagai warga yang istimewa.
Konsep-Konsep Preusz Mengenai Asas-Asas Religi
Konsep yang
pertama yaitu Preusz menganggap bahwa wujud religi yang tertua berupa
tindakan-tindakan manusia untuk mengadakan keperluan-keperluah hidupnya yang
tak dapat dicapainya secara naluri atau dengan akalnya. Pemikiran Preusz tidak
hanya sampai disitu, dalam bukunya yang berjudul Die Geistige Kultur der
Naturvolker ia menulis bahwa pusat dari tiap system religi dan kepercayaan di
dunia adalah ritus dan upacara, dan melalui kekuatan-kekuatan yang dianggapnya
berperan dalam tindakan-tindakan ghaib seperti itu manusia mengira dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya serta mencapai tujuan hidupnya, baik yang
spiritual maupun yang material. Dalam bukunya yang berjudul Tod und
Unsterblichkeit im Glauben der Naturvolker, Preusz melanjutkan konsepnya
mengenai arti ritus dan upacara dengan anggapan bahwa rangkaian ritus yang
paling penting dalam banyak religi di dunia adalah ritus kematian. Dalam
ritus-ritus seperti itu tema pokoknya seringkali melambangkan proses pemisahan
antara yang hidup dan yang meninggal. Dalam al ini Preusz menuturkan bahwa
gambaran manusia mengenai hidup dan mati sebenarnya diciptakan dan dikembangkan
sendiri oleh manusia dengan ritus kematian sebagai sumbernya. Dengan demikian
ia tetap konsekuen menganut pendiriannya bahwa perkembangan system keyakinan
serta ajaran religi itu lebih banyak dipengaruhi oleh sistem upacara dan
tingkah laku manusia dalam kehidupannya sehari-hari daripada sebaliknya. Dalam
gagasan Preusz tampak adanya kesamaan dengan gagasan Otto, yaitu mengenai sikap
penuh emosi dari manusia bila menghadapi hal yang ghaib dan keramat.
Analisa Hertz Tentang Upacara Kematian
R. Hertz menganut
pendirian bahwa sebagian besar dari tingkah laku manusia dalam masyarakat
sangat banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh gagasan orang banyak atau gagasan
kolektif yang hidup dalam masyarakat itu. Hertz mengungkapkan bahwa upacara
kematian selalu dilakukan manusia dalam rangka adat istiadat dan struktur
sosial dari masyarakatnya yang berwujud sebagai gagasan kolektif. Disini Hertz
melihat bahwa gagasan kolektif mengenai gejala kematian yang terdapat pada
banyak suku bangsa di dunia adalah gagasan bahwa mati itu berarti suatu proses
peralihan dari suatu kedudukan sosial yang tertentu ke kedudukan sosial yang
lain, yaitu kedudukan sosial dalam dunia ini ke suatu kedudukan sosial dalam
dunia makhluk halus. Upacara kematian juga merupakan inisiasi peralihan dari
anggota dunia biasa menjadi anggota dunia keramat bagi kerabat dekatnya.
Analisa Van Gennep Mengenai Ritus Peralihan dan Upacara Pengukuhan.
Van Gennep menyatakan bahwa semua ritus dan upacara itu
dapat dibagi kedalam tiga bagian yaitu perpisahan (separation),
peralihan (marge), dan integrasi kembali (agregation). Dalam
bagian separation, manusia melepaskan kedudukannya yang semula. Acara ritus
biasanya terdiri dari tindakan-tindakan yang melambangkan perpisahan itu. Pada
bagian marge manusia dianggap mati atau tidak ada lagi, dan dalam keadaan
seperti tidak tergolong dalam lingkungan sosial manapun. Sedangkan dalam
aggregation, mereka diresmikan kedalam tahap kehidupannya serta lingkungan
sosialnya yang baru. Dalam upacara inisiasi sering ada acara dimana individu
yang bersangkutan secara pralambang seakan-akan dilahirkan kembali dan
mengukuhkan integrasinya kedalam lingkungan sosialnya yang baru.
Komentar
Posting Komentar