Kisah dalam al-Qur`an (Qashash al-Qur`an)
Pada zaman dahulu, ada sebuah tradisi lisan turun-temurun yang berkembang
di masyarakat seluruh belahan dunia. Tradisi lisan ini biasanya terdiri atas
cerita-cerita rakyat, baik itu berisi kisah orang-orang terdahulu maupun kisah
mitos dan legenda di daerah tersebut sesuai dengan kepercayaan mereka
masing-masing. Tradisi ini berkembang terus menerus dari generasi dan generasi,
dan menjadi sebuah kebudayaan lampau dan
lestari. Beragam fungsi dan tujuan orang-orang terdahulu membuat cerita dan
bercerita sesuatu. Ada yang bertujuan untuk mengenang jasa para tokoh terdahulu
di kalangan mereka, ada yang hanya sebatas sebagai hiburan, ada juga yang
bertujuan untuk memberi pelajaran bagi para pendengarnya. Bercerita atau
menceritakan sebuah kisah-kisah menarik yng mengandung pelajaran bagi
pendengarnya terbukti lebih mengena di hati para pendengar pada zaman dahulu.
Biasanya suatu perstiwa yang dikaitkan dengan hukum
kausalitas akan dapat menarik perhatian para pendengar. Apalagi dalam peristiwa
itu mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa
terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tahu untuk menyingkap peasn-pesan
peristiwanya merupakan faktor paling kuat yang tertanam dalam hati. Dan suatu
nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara monoton, tidak variatif tidak
akan mampu menarik perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan mampu
menarik perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan bisa dipahami. Akan
tetapi bila nasihat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang
terjadi dalam kehidupan, maka akan dapat meraih apa yang dituju. Orang pun akan
tidak bosan mendengarkan dan memperhatikanya, dia akan merasa rindu dan ingin
tahu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan menjelma menjadi suatu
menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya.
Begitu pula pada masa sebelum agama Islam masuk di tempat asalnya, tradisi
lisan seperti di atas sudah ada dan berkembang di msayarakat Arab dan
sekitarnya. Adanya kisah-kisah dalam Al-Qura’an memberi konstribusi banyak
dalam memberikan pemahaman akan syariat dan tujuan dari agama Islam sendiri.
Secara etimologi
“Kisah” berasal dari bahasa arab yakni qissah, bentuk jamaknya adalah Qashash
dan berasal dari kata al-qashshu yang berarti mencari atau mengikuti
jejak. Sedangkan secara terminology, Manna` Khalil Qattan mendefinisikan kisah dalam
al-qur`an yaitu:
أخباره عن
احوال الأمم الماضية و النبوات السابقة والحوادث الواقعة
Pemberitaan Qur`an tentang hal ihwal
umat yang telah lalu, kenabian yang terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang
telah terjadi.
Dr. Fahd ibn
Abd Rahman ibn Sulaiman al-rumi sependapat dengan manna` al-Qatthan, ia
mendefinisikan Qashash al qur`an:
أخباره عن
احوال الأمم الماضية و النبوات السابقة والحوادث الواقعة
Pemberitaan Qur`an tentang hal ihwal umat yang
telah lalu, kenabian yang terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
Prof.Dr. H.
Yunahar Lc, MA mendefinisikan Qashash al-Qur`an dengan:
Pemberitaan
al-Qur`an tentang nabi-nabi terdahulu, umat yang telah lalu, Pribadi atau tokoh
pada masa lalu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa yang lalu
termasuk yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW.
Qurays Shihab
Mendefinisikan Qashash al-Quran Dengan:
Menelusuri
peristiwa atau kejadian dengan jalan menyampaikan atau menceritakannya tahap
demi tahap sesuai dengan kronologi kejadiannya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Qashash
al-Qur`an atau kisah-kisah dalam al-Qur`an adalah Pemberitaan al-Qur`an
tentang hal ihwal umat yang telah lalu, para nabi terdahulu, dan
peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu.
Sumber:
Manna` al-Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur`an, (Kairo:Maktabah Wahbah, 2000)
Manna` al-Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qur`an, (Kairo:Maktabah Wahbah, 2000)
Fahd Ibn Abd Rahman
al-Rumi, Dirasat Fi Ulum al-Qur`an al-Karim, (Riyadh: ,2005)
unahar Ilyas, Kuliah
Ulumul Qur`an, (Yogayakarta: ITQAN Publishing, 2013)
M.Qurays Shihab, kaidah
Tafsir, (Tangerang: Lentera Hati, 2013).
Komentar
Posting Komentar