Hari Raya Waisak
Waisak merupakan salah satu hari penting dan paling bermakna bagi
umat Budha. Perlu digaris bawahi, perayaan hari Waisak ini hanya dilakukan oleh
penganut Budha Mahayana, tidak dengan yang lain. Kata waisak sendiri berasal
dari bahasa Pali “Vesakha” atau didalam bahasa Sanskerta disebut “Vaisakha”.
Nama Vesakha tersebut diambil dari bulan dalam kalender Buddhis yang biasanya
jatuh pada bulan Mei kalender Masehi. Namun terkadang hari Waisak jatuh pada
akhir April atau awal Juni. Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Budha
sering disebut hari raya “Trisuci Waisak”. Dinamakan demikian karena waisak
memperingati tiga peristiwa penting yakni kelahiran pangeran Shidarta,
pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya pangeran Sidharta, semua peristiwa
tersebut terjadi pada bulan vesakha dan pada waktu yang sama yakni pada saat
bulan purnama.
Sebagaimana penuturan Bikhu Jothidammo yang dikemas dalam buku
“Agama Kita”, Pangeran Sidharta merupakan Putra mahkota dari kerajaan
Kapilavatthu yang sekarang terletak di perbatasan India dengan Nepal, ia
terlahir sebagai calon Buddha, atau orang yang akan mencapai kebahagiaan
tertinggi. Ia lahir di India Utara tepatnya di Taman Lumbini pada Tahun 623 SM.
Hingga pada umur 29 tahun ia melihat 4 hal yang menggugah hatinya yang
menyebabkan ia meninggalkan keluarga dan kekusaannya dan lebih memilih menjadi
seorang petapa untuk mencari cara mengatasi penderitaan. Hingga pada usia 35
tahun ia mencapai penerangan yang sempurna. Setelah kurang lebih 45 tahun
menyebarkan ajarannya, kemudian pangeran siddharta wafat. Saat itu usianya
memasuki 80 tahun. Tiga peristiwa inilah yang melatar belakangi adanya hari
raya Waisak.
Tahun ini hari raya Waisak (Dharmasanti Waisak) 2560 BE dipusatkan
di Taman Lumbini Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Puncak peringatan
Waisak dihadiri ribuan umat Budha dari berbagai daerah di Indonesia dan
mancanegara. Sebagaimana diberitakan oleh harian Kompas, Direktur Jenderal
Bimbingan Masyarakat Budha, Kementrian Agama, Dasikin menyebutkan bahwa Waisak
tahun ini diikuti oleh sangha dan 20 majelis yang ada di Indonesia. Sangha dan
majelis tersebut ada yang tergabung dalam Perwakilan Umat Budha Indonesia
(Walubi), KASI, dan ada pula yang tidak tergabung dalam dua organisasi
tersebut. Berbeda dengan perayaan Waisak sebelumnya yang hanya diikuti oleh
beberapa sangha dan majelis. Peringatan Tri Suci Waisak ini tidak hanya
diperingati oleh Umat Budha Indonesia akan tetapi juga diperingati oleh Umat
Budha Negara lain seperti Cina, Tibet, Myanmar, Srilanka, Taiwan, dll.
Menyambut malam puncak hari raya Waisak umat Budha melakukan
serangkaian peribadatan. Yakni diawali dengan mengambil air dan api
ditempat-tempat yang dianggap suci untuk digunakan sebagai sarana puja bakti
dan berdoa agar bisa membangkitkan jiwa. Untuk acara hari raya Waisak yang
berpusat di Candi Borobudur, umat Budha mengambil air di daerah Umbul Jumprit dan mengambil api di
Merapen Grobokan sambil melakukan ritual dan puja bakti. Pengambilan air dan
api tersebut dilakukan pada tanggal 20 Mei tepatnya pada hari Jumat.
Selanjutnya air dan api tersebut disakralkan dan disemayamkan di candi mendut.
Keesokan harinya, pada tanggal 21 Mei rangkaian acara menyambut
hari raya Waisak kembali dilanjutkan. Diawali dengan melakukan Pindapata.
Pindapata merupakan serangkaian prosesi dalam hari raya waisak dimana para
Bikkhu berjalan keliling kampung dengan membawa mangkuk (pata) untuk menerima
dherma makanan dari para penduduk terutama umat Budha sendiri. Ha; ini
melambangkan cinta kasih sesama manusia. Hasil dherma makanan tersebut selain
digunakan untuk kebutuhan Bikkhu juga dibagikan pada panti sosial.
Setelah melakukan pindapata umat Budha melakukan Jalan Dharma, rute
yang dilalui adalah dimulai dari kawasan Candi Mendut melewati Candi Pawon
hingga zona 1 Taman Lumbini Candi Borobudur, kurang lebih jarak tempuhnya
sekitar 6 KM. Jalan Dharma merupakan rangkain Tri Suci Waisak yang dilaksanakan
untuk mengenang perjalanan suci sang Budha dalam menggapai pencerahan. Tidak
hanya diikuti oleh umat Budha, Jalan Dharma ini juga disaksikan oleh penduduk
sekitar Candi Mendut dan Candi Borobudur, ada pula mahasiswa UIN Sunan Ampel
yang menyaksikan, bahkan turis asing dari Eropa dan Negara Asia lainnya yang
memeriahkan. Tidak hanya menyaksikan kirab akan tetapi turis tersebut juga ikut
melakukan Jalan Dharma berbaur dengan Umat Budha lainnya. Dalam kirab Jalan
Dharma tersebut umat Budha membawa bunga sedap malam sebagai symbol keindahan.
Adapula yang membawa bendera merah putih, juga bendera masing-masing sangha dan
majelis. Air suci yang diambil dari Umbul Jumprit satu hari sebelum kirab jalan
dharma dibawa menggunakan tandu, sedangkan api dharma yang diambil dari Mrapen
dibawa menggunakan mobil. Makna air suci bagi umat Budha merupakan simbol
ketenangan batin sedangkan api dharma sebagai simbol penerangan dan kekuatan.
Sepanjang perjalanan, air suci dipercikan oleh Bikkhu kepada umat yang berjalan
serta masyarakat yang menyaksikan kirab tersebut di pinggir jalan. Jalan Dharma
ini juga diramaikan dengan berbagai seniman seperti reog Ponorogo. Adapula
sesembahan berupa hasi bumi yang dikirab dalam bentuk gunungan.
Setelah melakukan Jalan Dharma
kemudian sore harinya dilanjutkan dengan seremonial Dharmasanti Waisak bersama
Kemenag dan Presiden RI yang diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kallah.
Kemudian Detik-detik Waisak di Candi Borobudur ditandai dengan pelepasan 5000
lampion oleh umat Budha maupun masyarakat umum, pada Sabtu malam, tepatnya pada
pukul 22:00 WIB bertempat di lokasi Gunadharma. Setelah mengikuti acara Waisak
bersama, umat Budha dari berbagai majelis dipersilahkan untuk mengikuti
kegiatan Waisak sesuai instruksi majelis masing-masing. Ada yang kembali ke
Vihara masing-masing, ada yang mengijuti acara di Candi Sewu, dan ada pula yang
tetap menyambut detik-detik Waisak di
Candi Borobudur seperti Walubi.
Walubi menyambut detik-detik Waisak
di Candi Agung Borobudur. Rangkaian acara nya dimulai pada pukul 01:00 dengan Vihara Githa (menyanyikan
lagu-lagu Buddhis), pengarahan dari ketua panitia Waisak, Sambutan dari Dirjen
Bimas Budha Kementrian Agama RI, Pradaksina mengelilingi Candi Borobudur
Sebanyak 3 kali, Doa yang dibawa oleh majlis, Renungan waisak, dan tuntunan
sebelum meditasi Waisak. Selanjutnya pada pukul 04:10 dilakukan meditasi
menjelang detik-detik Waisak, dilanjutkan dengan detik-detik Waisak yang
ditandai dengan pemukulan Gong sebanyak tiga kali, kemudian pemukulan Gong satu
kali sebagai tanda meditasi selesai. Pukul 04:50 blessing oleh Bikkhu,
selanjutnya penutupan dengan Namaskara. Dan diakhiri dengan pelepasan lampion
sebanyak 500 buah bertempat di zona 1 Candi Agung Borobudur. Namun pelepasan
lampion yang kedua hanya dilakukan oleh para Bikkhu dan peserta ritual saja.
Demikian prosesi acara hari raya Waisak yang diliput oleh harian Kompas.
Komentar
Posting Komentar