Mengenal Agama Budha

Seperti agama Hindu, agama Budha juga lahir di daerah india. Budha adalah sebutan bagi seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna. Penerangan sempurna adalah suatu tingkat kondisi batin yang telah berkembang sedemikian rupa sehingga mampu menyadari kenyataan atau kebenaran yang terdapat dalam kehidupan ini. Budha berarti Yang Sadar. Berbicara tentang agama Budha di India selalu menyoal pada tiga hal yakni pra kelahiran, kelahiran, dan perkembangannya. Tentu tiga hal tersebut tidak dapat lepas dari nama Siddharata Gautama, tokoh keturunan suku sakya yang melahirkan agama Budha hingga berkembang ke berbagai penjuru dunia.
            Sebelum lahirnya agama Budha (pra kelahiran), masyarakat india telah menganut berbagai ajaran agama. Pada periode awal masyarakat India memiliki corak tradisi pertapaan dengan pertapa-pertapa berambut panjang yang telanjang. Selanjutnya mengenal upacara-upacara keagamaan serta ritus korban melalui Brahmana. Dalam perkembangan berikutnya masyarakat India mengenal agama melalui kaum Upanisad, dan berikutnya mengenal tradisi pertapaan keras dari kaum Jaina.
            Pada tahun 623 SM lahirlah Siddhatta Gotama,yang merupakan putra mahkota dari kerajaan Kapilavatthu. Zaman inilah yang disebut zaman kelahiran. Sekalipun Siddharta hidup ditengah bergelimangnya harta, namun itu tidak membuatnya kerasan, seringkali ia meninggalkan istana untuk melihat dunia luar. Banyak pemandangan menyentuh jiwa yang ditemuinya. Pemandangan tersebut yang kemudian memberikan petunjuk kepadanya untuk menjalani hidup sebagai pertapa yang berusaha mencari cara mengatasi penderitaan. Pada usia 29 tahun Siddharta meninggalkan kehidupan sebagai seorang putra mahkota dan menjadi petapa. Selama 6 tahun ia berkelana di hutan untuk mencari cara mengatasi penderitaan dan akhirnya pada usia 35 tahun apa yang dicita-citakan tercapai. Ia berhasil mencapai penerangan dan pencerahan sempurna ketika bertapa di bawah kerindangan sebuah pohon  Boddhi. Sebab itulah ia mendapat gelar Buddha dan nama lengkapnya menjadi Buddha Gotama.
            Selama 45 tahun Buddha Gotama membabarkan ajarannya kepada siapapun tanpa memandang status sosial. Ajaran-ajarannya dipelihara oleh murid-muridnya secara turun-temurun hingga kemudian ditulis kitab-kitab yang memuat ajarannya pada tahun 80 SM dengan menggunakan bahasa Pali (Magadha). Kitab-kitab yang memuat ajaran Budha disebut Tripitaka yang artinya Tiga Keranjang atau Tiga Kelompok yang terdiri dari Vinaya Pitaka yang berisi peraturan-peraturan hidup umat Budha yang meninggalkan hidup berumah tangga (Bikkhu dan Bikkhuni), Sutta Pitaka yang berisi khutbah-khutbah Buddha Gotama dan murud-muridnya yang terkenal pada masa beliau masih hidup, dan Abhidamma Pitaka yang berisi ajaran ilmu jiwa dan metafisika agama Budha.  Hingga saat ini, lebih dari 2500 tahun agama Budha tersebar ke luar India. Dan ada dua madzhab besar yang dianut oleh umat Budha di dunia yakni Madzhab Theravada dan Madzhab Mahayana.
            Tidak dapat diketahui secara pasti kapan masuknya agama hindu ke Indonesia, namun ada sebagian sumber yang menyatakan bahwa agama Budha mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-4 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya patung-patung Budha bergaya gupta di lembah sungai Kapuas Mahakam dan Rata Kalimantan Timur. Dalam mempelajari perkembangan agama Budha di Indonesia secara garis besar terbagi menjadi 6 bagian masa yakni masa kerajaan Sriwijaya, masa kerajaan di Jawa Tengah, masa kerajaan di Jawa Timur, masa abad ke-20, masa pasca kemerdekaan Indonesia, dan masa Walubi. Agama yang masuk di Indonesia terus mengalami perkembangan melalui kerja keras dari para Brahmana. Agama Budha mengalami masa keemasan pada masa kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7 Masehi.
              Agama Budha atau ajaran Budha lebih merupakan way of life sebab ajaran Budha lebih merupakan satu perangkat system keyakinan yang didasarkan pada pengertian dan mengarah pada corak perilaku atau perbuatan untuk mencapai kebebasan penderitaan. Ajaran Budha merupakan ajaran yang bercorak pragmatis dalam hal penanganan permasalahan hidup. Demikian pula Budha pernah mengibaratkan ajarannya dengan sebuah rakit yang merupakan sarana yang dipergunakan untuk menyeberang ke pantai yang aman dan bahagia (bebas dari penderitaan). Pokok-pokok ajaran Budha terdiri dari enam unsur anatara lain, Tiga Permata (Tiratana atau Triratna) yakni Buddha, Dhamma, dan Sangha. Tiga permata tersebut masing-masing memiliki nilai kesucian mutlak. Yang mutlak dalam ajaran Budha bersifat Esa atau tidak merupakan perpaduan. Itulah hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Budha. Empat Kesunyataan Mulia dan Jalan Utama Berunsur Delapan merupakan ajaran Budha yang pertama kali dibabarkan oleh Buddha Gotama meliputi Esensi hidup adalah penderitaan, Sebab penderitaan adalah nafsu keinginan, Akhir penderitaan disebabkan padamnya nafsu keinginan, Jalan untuk mengakhiri penderitaan adalah Jalan utama berunsur delapan yaitu Pengertian benar, Pikiran benar, Ucapan Benar, Perilaku benar, Mata pencaharian benar, Daya upaya benar, dan Konsentrasi benar. Tiga Corak Umum merupakan eksistensi segala sesuatu yang berada di sekelilingnya. Rumusan Tiga Corak Umum adalah ketidak kekalan segala sesuatu yang terjadi dari perpaduan, kelangsungan terus-menerus (proses) segala sesuatu yang terjadi dari perpaduan, ketanpa-intian segala sesuatu yang ada. Hukum Perilaku (karma) dan Tumimbal Lahir, hukum perilaku ini memberikan pengertian kepada manusia tentang prinsip berperilaku. Perihal Tumimbal lahir ajaran Budha menyatakan bahwa hidup ini merupakan proses yang berkesinambungan dari hidup yang lampau, hidup sekarang, dan hidup yang akan datang. Hukum Sebab Musabab yang saling berkaitan, hukum ini menjelaskan tentang terjadinya segala sesuatu yang “ada” disebabkan oleh suatu sebab atau banyak sebab yang berkaitan. Yang “ada” merupakan suatu “ada” ditengah-tengan “ada-ada” yang banyak. Bisa dikatakan bahwa segala sesuatu berlangsung terus menjadi. Kebebasan Penderitaan (Nibbana atau Nirwana) seringa dipahami keliru sebab dipersamakan dengan surga, padahal Nibbana adalah keadaan tidak ada kehidupan lagi, sehingga tidak ada kelahiran, tidak ada usia tua, tidak ada sakit, dan tidak ada kematian lagi atau disebut juga keadaan akhir derita atau kebebasan penderitaan. Ajaran Budha juga menyampaikan tentang adanya surga yang merupakan alam kehidupan makhluk-makhluk yang sedang menikmati akibat perilaku baik yang telah dilakukannya.

Masyarakat pemeluk agama Budha terdiri dari dua macam yaitu umat Budha berumahtangga yang melaksanakan lima atau delapan peraturan moral dan biasa disebut Upasaka (Pria) dan Upasaki (perempuan), dan yang kedua adalah umat Budha tidak berumah tangga yang melaksanakan 100 peraturan moral biasa disebut Samanera (pria) dan Samaneri (perempuan) dan merupakan calon Bikkhu dan Bikkhuni. Perbedaan kedua umat Budha diatas terletak pada jumlah dan macam peraturan moral yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an