Kritik Ibn Rusyd terhadap teori emanasi para filosof Islam
Ibn Rusyd menggunakan teori emanasi
sebagai dasar pergulatan pemikirannya untuk memahami relasi antara alam dan
Tuhan. Dalam teori emanasi ini, Ibn Rusyd berangkat dari pemahaman bahwa salah
satu sifat Tuhan yang hakiki adalah kesempurnaan-Nya dan keesaan-Nya. Tuhanyang
Esa inilah yang mengemanasikan alam semesta karena
kesempurnaan-Nya.Kesempurnaan dan ke-Esa-an Tuhan itu harus dilihat dari sisi
perbuatan-Nya sejak azali. Karena kalo tidak dipahami demikian, maka ada saat
di mana Tuhan harus mengatur pada zaman tertentu, sebelum Dia memutuskan diri
untuk menciptakan alam semesta ini. Tuhan yang mengatur rupanya susah
terbayangkan oleh Ibn Rusyd.Terkait dengan ke-Esa-an Tuhan, Ibn Rusyd memahami
bahwa yang melimpah dari Tuhan yang Esa tidak harus satu, tetapi juga lebih
dari satu.[1][18]
Untuk mendukung pendapatnya ini, Ibn
Rusyd mengungkapkan perbedaan mendasar antara Tuhan dengan manusia dalam
melakukan suatu aktivitas/perbuatan. Ibn Rusyd mengatakan sesungguhnya ada
perbedaan antara Pembuat Pertama (Tuhan) dengan pembuat yang nyata (manusia).
Dalam proses penciptaan, alam semesta ini melimpah dari Tuhan yang Esa. Tuhan
tidak hanya melimpahkan yang satu saja, tetapi terdapat multiplisitas limpahan
yang terjadi, sebagai efek multiple dari tindakan Tuhan yang Esa itu. Menurut
Ibn Rusyd, tindakan Tuhan semacam itu harus dibedakan dengan tindakan manusia.
Manusia hanya mungkin melakukan sekali tindakan dengan satu efek tindakan yang
telah dibuatnya. Tetapi untuk Tuhan, dengan sekali tindakan, dapat menghasilkan
beragam efek dari tindakan yang telah diperbuat-Nya. Dengan alasan ini,
akhirnya Ibn Rusyd menolak pemahaman para pemikir teori emanasi pada umumnya
yang menyatakan bahwa dari yang Satu, Esa, hanya melimpah satu.
Ibn Rusyd sekali lagi secara tegas
mengatakan bahwa Tuhan dalam keharusan-Nya menyebabkan segala sesuatu secara
serentak, tanpa ada perantara lain selain Dia. Dalam bukunya,
Tahafut-al-Tahafut, Ibn Rusyd menunjukkan bahwa pembuat yang Esa itu
menyebabkan alam semesta dengan keanekaragaman realitas particular di dalamnya.[2][19]
Dari apa yang telah diuraikan di
atas, Ibn Rusyd menyatakan bahwa antara wujud empiris dengan wujud akali
sebetulnya tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut Ibn Rusyd menyatakan juga bahwa
alamsemesta ini satu, ke luar dari Yang Satu. Di satu pihak, Yang Satu ini
adalah penyebab adanya kesatuan. Sementara di pihak lain, Yang Satu ini menjadi
penyebab adanya keragaman realitas. Untuk memperkuat pendapatnya ini, Ibn Rusyd
mengajukan argumentasi cemerlang melaui sebuah pernyataan tegas bahwa dari Yang
Esa, dengan ke-Esa-an-Nya, harus melimpah keragaman atau melimpah apapun sesuai
dengan kesempurnaan-Nya. Dari Yang Satu bukan hanya melimpah satu, karena hal
itu tidak akan pernah sesuai dengan fakta keberagaman yang ada di semesta alam
ini.
Semua prinsip, baik yang berasal
dari materi maupun yang bukan materi, melimpah dari prinsip pertama (Tuhan).
Untuk itu, eksistensi alam semesta ini tiada lain disebabkan oleh kekuatan
Tuhan yang satu, sehingga kekuatan Tuhan yang satu itu meresap di dalammya.
Dari kekuatan Tuhan ini, jadilah semuanya sebagai satu kesatuan yang sesuai
dengan tindakan Tuhan yang satu. Karena jika tidak dipahami secara demikian,
tidak akan pernah terjadi keteraturan dan keterkaitan antar bagian di dalam
alam semesta ini. Berdasarkan pemahaman semacam ini juga, maka Ibn Rusyd
membenarkan bahwa Tuhan adalah penyokong dan pemelihara segala sesuatu.
Kalaupun ada kekuatan yang meresap
dalam alam semesta, seperti yang dimaksudkan Ibn Rusyd, hal itu bukan berarti
bahwa dengan meresapnya kekuatan yang satu ke dalam alam semesta, maka alam
semesta menjadi banyak, seperti yang diduga. Hal ini memang sesuai dengan
anggapan kebanyakan orang bahwa dari prinsip pertama mula-mula hanya melimpah
satu saja, kemudian dari yang satu itu melimpah yang banyak. Akan tetapi,
dugaan semacam itu muncul dari pemikiran orang-orang yang menyamakan pembuat
yang gaib (Tuhan) dengan pembuat nyata (manusia), atau antara pembuat yang
immaterial (Tuhan) dengan pembuat yang material (manusia). Hal ini sangatlah
mustahil bagi Ibn Rusyd. Dari pemaparan di atas, maka jelaslah kebolehan
melimpahnya keberagaman dari Yang Esa, tanpa perantara siapa dan apa pun,
selain dari Yang Esa itu sendiri.
Ibn Rusyd kemudian menambahkan penjelasannya dengan
membandingkan alam semesta ini , yang terdiri dari berbagai bagiannya, dengan
negara yang memiliki banyak pemimpin. Semua pemimpin yang ada dalam negara itu,
akan tunduk di bawah pimpinan yang satu dan tertinggi, yaitu kepala negara.
Demikian pun alam semesta ini, begitu banyak realitas particular ada di
dalamnya, akan tetapi alam semesta, baik sebagai totalitas maupun
realitas-realitas particular yang ada di dalamnya, tunduk di bawah prinsip
pertama dan tunggal, yakni Penyebab alam semesta ini. Dengan begitu, tidak
dapat dibantah bahwa dari Yang Esa melimpah beraneka ragam realitas sehingga
sesuai dengan kenyataan yang ada dalam alam semesta.
Komentar
Posting Komentar