Peran Tokoh dalam Sejarah Peradaban
Muhammad SAW,
seorang tokoh revolusioner dunia, pengubah peradaban. Namanya dikenang sepanjang masa oleh ribuan jutaan
bahkan miliaran muslim di dunia. Seorang pemimpin dan nabi yang diberi wahyu oleh Allah SWT untuk
membawa ajaran yang dikenal dengan Agama Islam. Segala perilaku pada masa
hidupnya diikuti, ditiru, bahkan ditafsiri secara berbeda oleh para
penganutnya. Ia berhasil menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia, walau
banyak rintangan yang harus ia lewati namun kegigihannya berhasil mengalahkan
rintangan yang menghadang. Muhammad
merupakan individu yang dikenal karena kualitas pribadinya yang khas, ia
memiliki banyak talenta, kecakapan berdiplomatik, cerdik, bahkan kharisma.
Keberhasilan muhammad bisa dilihat dari dua aspek, pertama dalam literatur
sejarah, sejak kecil ia sudah memiliki predikat al-amin hingga memiliki banyak
pengikut setelah diutus menjadi nabi. Kedua, sebagai penjelas dari Kalamullah
SWT. Al-Qur`an yang merupakan kalamullah bersifat global, sedangkan hadis nabi
sebagai penjelas dari keumuman lafadznya.
Ada
beberapa klasifikasi peran orang besar dalam sejarah. Determinisme heroik,
determinisme sosial, evolusioner-adaptif. Determinisme heroik merupakan satu
teori yang paling tepat diletakkan pada muhammad. Determinisme heroik disini
sebagai sebuah doktrin bahwa semua kejadian sejarah adalah pengaruh tindakan
individu, sejarah itu sepenuhnya bisa dipengaruhi serta orang besar adalah
individu yang mampu melakukan perubahan historis terbesar. Muhammad sangat
berpengaruh di seantero arabia pada masa itu. Keberaniannya menyebarkan tauhid
ditengah-tengah masyarakat yang paganis dan politeis merupakan keputusan yang
sangat berat karena resikonya pun sangat besar.karena keberhasilannya, Muhammad
dilihat sebagai actor dan thinker sekaligus pahlawan. Tindakan kepahlawanan
inilah yang akan membangkitkan kepatuhan, perasaan hormat, bahkan pemuujaan
dari pengikutnya. Bahkan umat islam yang terbagi ke dalam berbagai aliran pada
saat ini berhulu pada Muhammad.
Al-Qur`an
dan hadis merupakan petunjuk bagi umat Muhammad. Dalam memahaminya, para
pengkaji islam melakukannya dengan salah satu dari tiga aliran berikut: a) Monisme,
yakni antara isi dan bentuk teks merupakan satu kesatuan sehingga tidak mungkin
ada perbedaan pendapat. b) Dualisme, Isi dan bentuk teks memiliki esensi
tersendiri, meskipun terdapat hubungan namun belum kompleks. c) Pluralisme, hubungan
isi dan bentuk teks memiliki eksistensi fungsi tersendiri namun hubungan
keduanya sangatlah kompleks. dari tiga arus ini kemudian muncul berbagai
aliran.
Pada
tahap awal, kajian hadis dilakukan secara langsung. disana nabi bertatap muka
dengan para sahabat, kemudian sahabat tersebut menyampaikan pada muridnya.
Namun karena berbagai faktor diantaranya politik, muncul para pemalsu hadis.
Hal ini membuat para ulama hadis marah, kemudian merancang seperangkat keilmuan
untuk memisahkan hadis yang otentik dengan hadis yang palsu. Tak heran pada
kajian ilmu rijal hadis seringkali ditemukan kata-kata kasar seperti akdzabun
nas bagi para pemalsu hadis. Otentisitas hadis merupakan harga mati karena
hadis hadis memiliki peran strategis hingga saat ini. Ini merupakan ciri khas
kajian hadis konvensional dimana relasi antara teks dan author menjadi tema
pokok yang mendapat porsi perhatian yang dominan, kemudian menghasilkan
kategori-kategori berupa hadis shahih, hasan, dhoif, dll.
Dalam
hadis kontemporer yang menjadi pokok bahasan adalah relasi antara teks dengan
pembacanya. Bukan berarti problem otentisitas sudah tidak penting lagi, akan
tetapi apabila hanya terhenti pada problem otentisitas akan menimbulkan
konsekuensi yakni pesan atau makna yang disampaikan akan tersubordinasi,
termarjinalisasi, dan tersisih, serta keterpakuan terhadap teks akan
memarginalisasikan pembaca. Problem otentifikasi teks, Idolisasi Author, dan
interpretasi pembaca seluruhnya tercakup dalam kajian hadis kontemporer,
berbeda dengan kajian hadis konvensional yang hanya mencakup problem
otentifikasi teks.
Pada
masa sekarang hadis tidak hanya tersimpan dalam teks-teks kitab klasik, tetapi
masuk disetiap lini kehidupan umat islam. Kini hadis hadir dalam bentuk booklet,
rubrik tertentu di media massa, internet, HP, atau ulama (idola dalam
bahasa kajian media). Fungsinya di tengah masyarakat nyaris sma dengan idola:
memuaskan kebutuhan aspek tertentu dalam masyarakat. Dengan demikian seorang
ulama harus mampu memuaskan keinginan umatnya di bidang agama. Ulama ataupun
idola dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bergantung pada satu faktor,
banyak faktor yang kompleks disana.
Presepsi pembaca terhadap idola
sedikit banyak mempengaruhi pemahaman atau interpretasi yang dimiliki pembaca
tersebut. Bila antara pembaca dan idola terdapat jarak waktu yang panjang, maka
pembaca akan mencari atau menciptakan pseudo-idol yang dianggap sukses
mengamalkan petunjuk idola sejati, yakni si author tersebut. Orang yang
memiliki presepdi bahwa idolanya adalah si A, ia akan cenderung menangkap
“sinyal-sinyal” petunjuk idolanya itu sebagai manifestasi dari sifat sang
idola. Gejala seperti ini tidak akan mampu dianalisis bila hanya mengandalkan
perangkat keilmuan hadis konvensional.
Komentar
Posting Komentar