Simbol Agama; Kesakralan Masyarakat Durkheim



            Durkheim membangun teori yang revolutif tentang Agama dengan menggunakan lensa sosial. Durkheim mengutamakan arti penting masyarakat –struktur, interaksi, dan institusi sosial- dalam memahami perilaku dan pemikiran manusia. Tanpa adanya masyarakat yang melahirkan dan membentuk semua itu, maka tak satupun akan muncul dalam kehidupan kita.
Sosiologi dan Masyarakat
            Durkheim mengklaim bahwa hanya sosiologi yang akan bisa membantu memahami gejolak masyarakat yang berdiri diatas kaki mereka sendiri. Ia menyandarkan penelitiannya pada dua prinsip: pertama, Sifat alami masyarakat adalah objek penyelidikan sistematik yang paling cocok dan menjanjikan, khususnya dalam sejarah saat ini; kedua, semua fakta sosial harus diinvestigasi melalui metode ilmiah seobjektif dan semurni mungkin.
Sifat Alami Masyarakat
            Durkheim menjelaskan bahwa kehidupan sosial telah membentuk corak-corak paling mendasar dalam kebudayaan manusia. Bahkan dalam masyarakat pra sejarah sekalipun, seorang individu yang dilahirkan ke dunia langsung mendapati kelompok-kelompok seperti keluarga, klan, suku, dan bangsa-bangsa, mereka tumbuh di dalam konteks kelompok tersebut.
Studi Ilmiah Tentang Masyarakat
            Sebuah masyarakat bukan hanya sekedar sekelumit  pemikiran yang ada dalam kepala seseorang, tapi merupakan kumpulan sekian banyak fakta- mulai dari bahasa, hukum, kebiasaan, ide, nilai, tradisi, teknik, sampai kepada aneka jenis produk yang dihasilkan masyarakat tersebut. Semua itu saling terkait satu sama lain dan keberadaannya merupakan sesuatu yang  bersifat eksternal dari pikiran manusia. Untuk mengkajinya diperlukan disiplin ilmu tertentu, tidak bisa menjelaskan masyarakat hanya menggunakan biologi, psikologi, maupun ekonomi. Masyarakat juga butuk sosiologi karena disiplin yang lain tidak memadahi.
The Elementary of Religious Life
            Buku the elementary of religious merupakan hasil penelitiannya terhadap masyarakat primitif Australia. Dalam masyarakat beragama dunia dibagi menjadi dua bagian, sakral dan profan. Hal yang sakral selalu diartikan dengan sesuatu yang superior, berkuasa, dalam kondisi normal dia tidak tersentuh dan selalu dihormati. Sebaliknya hal yang profan adalah bagian keseharian dari hidup dan bersifat biasa-biasa saja. Dan konsentrasi agama terletak pada yang sakral. Durkheim mendefinisikan agama dengan satu sistem kepercayaan dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan yang sakral, yaitu sesuatu yang terpisah dan terlarang. Yang sakral memiliki pengaruh sangat luas, menenetukan kesejahtreraan dan kepentingan seluruh anggota masyarakat. Sedang yang profan tidak memiliki pengaruh yang besar hanya merefleksikan keseharian tiap individu.
             


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an