Teori-teori yang Berorientasi pada Keyakinan Religi
a.
Teori
Lang tentang Dewa Tertinggi
Buku Lang yang mengandung teori tentang bentuk religi yang kuno
adalah Tne Making Of Religion. Buku ini terdiri dari dua bagian, bagian
pertama Lang menyatakan bahwa dalam jiwa manusia ada suatu kemampuan ghaib yang
dapat bekerja lebih kuat dengan makin lemahnya aktivitas pikiran manusia yang
rasional. Karena itulah gejala-gejala gaib itu bisa bekerja lebih kuat pada
orang bersahaja yang kurang aktif hidup dengan pikirannya dibandingkan dengan
orang Eropa misalnya yang banyak bergantung pada pikiran rasional dalam
hidupnya. Kemampuan gaib pada manusia bersahaja zaman dahulu itulah yang
menurut Lang menyebabkan timbulnya konsep jiwa.
Kemudian pada bagian kedua mengandung suatu
uraian mengenai folklor dan mitologi suku bangsa di berbagai muka bumi. Dalam
dongeng mitologi Lang sering menemukan adanya tokoh dewa yang oleh suku bangsa
yang bersangkutan dianggap dewa tertinggi. Maka berdasarkan hal itulah Lang
berkesimpulan bahwa keyakinan kepada dewa tertinggi dalam religi suku-suku
bangsa tersebut sudah sangat tua, dan mungkin bentuk religi manusia tertua yang
terdesak kebelakang oleh keyakinan kepada makhluk halus lain seperti roh, hantu
dan lainnya.
b.
Teori Marret Tentang Kekuatan Luar Biasa
Marret mengajukan teorinya sendiri tentang
asal mula religi manusia yaitu bahwa pangkal religi adalah suatu emosi atau
suatu getaran jiwa yang timbul karena kekaguman manusia terhadap hal-hal dan
gejala-gejala tertentu yang sifatnya luar biasa. Ada sebuah kekuatan yang
derajatnya diatas kekuatan alamiah biasa, yaitu kekuatan superanatural.
Kekuatan luar biasa inilah dalam bahasa indonesia dikenal dengan kekuatan gaib
atau sakti atau yang dikenal dengan istilah mana. Dengan menunjuk kepada
data etnografi tentang mana, Marret kemudian mengajukan teori bahwa
manusia purba dalam hidupnya sering kagum akan hal-hal serta peristiwa gaib
yang tak dapat diterangkan dengan akalnya yang masih terbatas.
c.
Konsep Kruyt Tentang Animisme dan Spiritisme
Dalam bukunya yang berjudul Het Animisme in
den Indischen Archipel, ia mengembangkan suatu teori mengenai bentuk religi
manusia primitif atau manusia kuno yang berpusat pada suatu kekuatan gaib yang
serupa dengan kekuatan mana dan kekuatan superanatural. Kruyt juga
berkata bahwa manusia primitif atau zaman kuno pada umumnya yakin akan adanya
suatu zat halus (zielestof) yang memberi kekuatan hidup dan gerak kepada banyak
hal didalam alam semesta. Zielestof tersebut terutama ada dalam beberapa bagian
tubuh manusia seperti rambut, binatang seperti laba-laba, dan tumbuhan seperti
pohon aren. Disamping keyakinan kepada zielestof, manusia kuno juga mempunyai
keyakinan kepada berbagai makhluk halus yang menempati alam sekitar jelmaan
dari orang yang telah meninggal (spiritisme).
Mengenai hubungan antara animisme dan
spiritisme, Kruyt mngembangkan sebuah teori evolusionisme. Mula-mula manusia
hidup dalam masyarakat yang communistisch, maka religi yang pokok adalah
keyakinan akan adanya zat halus yang umum (zielestof). Seiring berkembangnya
individualisme, kemudian keyakinan pada zat halus yang umum mulai menghusus
kepada zat halus dari individu, sedangkan keyakinan terhadap zat halus itu
menjadi penting ketika individu yang mendukungnya telah meninggal, dan zat
halus itu tadi hidup sendiri-sendiri sebagai makhluk halus.
Komentar
Posting Komentar