Mengenal Keunikan Masjid Agung Mataram
Ketika berangkat dari kampus, terbayang dalam pikiran saya bahwa
masjid yang akan kita kunjungi yaitu layaknya masjid biasanya. Tiba di parkiran
masjid, refleks suatu pertanyaan muncul yaitu “dimana letak masjidnya?”. Karena
jika dilihat sepintas, memang tidak tampak bahwa bangunan itu
adalah masjid. Sebelum pintu masuk masjid terdapat banyak pemukiman penduduk.
Mayoritas mereka berprofesi sebagai pedagang. Mereka sangat pandai memanfaatkan
tempat yang strategis tersebut untuk mencari penghasilan. Singkat cerita,
ketika seorang teman mengajak masuk ke pelataran masjjid, saya tertegun di
depan pintu masuk “kita mau ke masjid atau pura?”, terdapat beberapa patung
yang terlukis di pintu masuk, hal itu sangat jarang terdapat pada masjid-masjid
biasanya. Ternyata keheranan saya terjawab setelah saya browsing di internet
bahwa masjid agung mataram ini dibangun pada masa kerajaan mataram Islam oleh Sultan
Agung bergotong royong dengan masyarakat yang notabenenya masih banyak yang
beragama Hindu dan Budha, tak heran bila arsitektur masjid ini seolah memadukan
dua unsur budaya dari latar belakang agama yang berbeda yakni Hindu
dan Islam.
Tiba di halaman masjid, suasana yang saya
rasakan adalah udara sejuk karena memang terdapat banyak pohon yang tumbuh di
halaman masjid. Selain itu tidak ada suara ingar bingar kendaraan ataupun
lainnya, yang terasa hanya keheningan, seolah tempat tersebut sangat sakral.
Mengutip dari definisi Durkheim tentang sakral yaitu sesuatu yang superior,
berkuasa, dalam kondisi normal dia tidak tersentuh dan selalu dihormati. Entah
keheningan tersebut disebabkan karena akan dimulainya shalat jum`at, atau
memang tempat tersebut dianggap sakral oleh masyarakat, dalam artian sangat
dihormati. Berbeda dengan saat di parkiran, semua berjalan normal-normal saja,
tidak ada istilah canggung untuk berbuat sesuatu, bahkan mereka cuek melakukan
hal apa saja disana. Inilah yang disebut profan dalam teori sosial, tidak
memiliki pengaruh hanya saja merefleksikan keseharian tiap individu.
Dari halaman juga terlihat banyak orang mulai berdatangan untuk
melakukan shalat Jum`at. Dari segi peribadatan saya
tidak memperhatikan begitu jelas karena mungkin
terlalu fokus dan kagum pada arsitektur masjid. Yang bisa saya ingat yaitu adanya perbedaan pelaksanaan shalat jum`at di masjid ini
dengan yang biasa saya lihat ketika di desa yaitu apabila di masjid agung
mataram ini hanya adzan satu kali, sedang yang biasa saya lihat dahulu adalah
adzan dilakukan dua kali pada shalat jum`at. Selanjutnya, doa yang biasanya
dilantunkan lumayan lama, di masjid ini doa dilantunkan hanya sebentar. Dan
jamaah yang melaksanakannya pun berbeda, yang saya ketahui jamaah shalat jum`at
hanya terdiri dari kaum lelaki saja, namun yang saya temui disana terdapat kaum
perempuan yang juga ikut melaksanakan shalat Jum`at. Namun saya rasa perbedaan
seperti itu sangatlah wajar, mengingat jauhnya jarak kita dengan panutan kita
yakni Rasulullah SAW, sehingga setiap kelompok memilih panutan tersendiri yang
masanya lebih dekat untuk diikuti, yang terpenting tidak melenceng dari
nilai-nilai keislaman. Pemahaman pengikut terhadap panutan sangat berpengaruh
terhadap interpretasi pengikut itu sendiri. Hal ini hanya perbedaan yang
terletak pada sistem ritus dan upacara. Menurut Kuntjaraningrat sistem dan
ritus upacara dalam suatu religi berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam
melaksanakan kebaktiannya terhadap tuhan, dewa-dewa, roh nenek moyang, atau
makhluk halus lain, dan dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan
penghuni alam ghaib lainnya. Dalam islam, shalat sebagai sistem dan ritus
upacara digunakan untuk menyembah dan berkomunikasi Allah SWT sebagai Tuhan
Yang Maha Esa.
Sekilas
bangunan masjid tampak seperti bangunan pendopo, berbentuk limas dan terdapat
bangunan inti serta serambi, sangat unik terlihat. Keunikan lainnya yaitu
terletak pada benda-benda yang terdapat didalamnya seperti bedug yang digunakan
sebagai penanda tibanya waktu shalat, konon bedug tersebut merupakan hadiah
dari Nyai Pringgit. Didalamnya juga terdapat mimbar khotbah yang sangat besar
dengan ukiran yang mempesona, konon mimbar ini merupakan hadiah dari Sultan
Palembang kepada Sultan Agung. Selain itu puncak kubah masjid yang biasanya terdapat
ornamen berbentuk bulan bintang atau lafadz Allah, namun di puncak atap masjid
agung mataram ini terdapat benda berbentuk gada dengan ukuran besar yang dihias
dengan ornamen seperti daun simbar. Gada besar itu melambangkan huruf alif
ataupun angka satu yang menyimbolkan ke-Esa-an Allah SWT. Arsitektur dan
benda-benda unik tadi termasuk salah satu dari lima komponen religi yang
dikemukakan oleh Kuntjaraningrat yakni alat ritus dan upacara. Setiap
sistem ritus dan upara religi biasanya membutuhkan berbagai macam sarana dan
peralatan seperti tempat atau gedung pemujaan dan benda-benda lainnya. Dalam
agama Islam ketika beribadah kepada Allah SWT membutuhkan sarana sebagaimana
yang telah disebutkan diatas. Dalam artikel ini penulis menitik beratkan pada
arsitektur dan benda-benda yang penulis anggap unik sebagai ikon menarik dari
masjid Agung Mataram ini.
Komentar
Posting Komentar