Spititualitas dan Kharisma




Otoritas dan Rutinisasi Kharisma Menurut Weber
            Otoritas adalah kemungkinan yang di dalamnya terdapat suatu perintah untuk dipatuhi oleh seseorang atau kelompok tertentu. Karenanya, otoritas merupakan bagian dari suatu relasi kekuasaan sekaligus mengandung unsur perintah dan unsur kontrol. Otoritas terbagi menjadi tiga:
1.      Otoritas Legal (Legal-Rational Authority)
Otoritas legal merupakan pemberian wewenang atau otoritas yang bersumber dari hukum atau peraturan perundang-undangan. Model otoritas ini cenderung mengutamakan birokrasi (politik dan ekonomi).
2.      Otoritas Tradisional
Otoritas tradisional merupakan otoritas yang memiliki keabsahan berdasarkan kesucian/kekudusan suatu tradisi tertentu yang hidup di tengah masyarakat. Sehingga ketika seseorang taat dan patuh terhadap suatu peraturan atau pada suatu struktur otoritas disebabkan karena kepercayaan mereka terhadap sesuatu yang bersifat kontuinyu.
3.      Otoritas Kharismatik
Istilah kharisma digambarkan secara sosiologis oleh Weber yaitu sebagai suatu pengakuan oleh para pengikut seorang pemimpin (leader) akan keistimewaannya. otoritas kharismatik sebagai tipe kepemimpinan yang keabsahannya diakui oleh kualitas, keistimewaan, keunggulan. Selain itu, otoritas kharismatik ditemukan pada pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang dapat mengispirasi orang.
Konsep Weber tentang Otoritas dan Otoritas Seorang Kyai
Ada beberapa masalah terutama dalam mengaplikasikan konsep kharisma ini dalam menguji kharismatik dari kepemimpinan kyai.  Kebanyakan diskusi weber tentang otoritas kharismatik merujuk kepada kharismatik pemimpin sejati, yang dilihat sebagai hasil dari ketururunan sosial dalam masyarakat. Ia memfokuskan masa penulisannya terhadap proses rutinisasi dari kharisma, khususnya terhadap contoh-contoh yang berkaitan dengan variasi bentuk untuk menanggulangi rangkaian berbagai isu, tetapi dia tidak terlalu memperhatikan isu tentang otoritas kharisma dalam intensifitas ketenangan masyarakat. Walaupun dia tidak menyebutkan secara spesifik tentang keabsahan kharisma dalam sebuah perintah, pada dasarnya diskusinya tentang ini mirip dengan penjelasannya tentang sifat dasar otoritas pemimpin yang kharismatik dapat merubah suatu keadaan pada saat kondisi krisis. Dalam kebanyakan contoh weber berpikir bahwa alasan ekonomi merupakan hal yang sangat penting.
Sumber utama dari kharisma seorang kyai adalah barakah dan karamah yang dipercaya sebagai hasil dari proses olah spiritual yang panjang, hal ini biasa disebut Riyadhah. Riyadhah mensyaratkan kesederhanaan hidup dan mengesampingkan hal-hal yang bersifat materi. Bahkan beberapa kyai terlihat seolah-olah tidak butuh dunia dan benar-benar menolaknya. Hal terpenting dan lumrah untuk mengenali tingkatan karamah seorang kyai adalah kemampuannya untuk mengatur hasrat hubbud dunya (cinta dunia). terlebih kyai bisa membebaskan dirinya dari seluruh kebutuhan duniawinya. Juga kyai yang dianggap oleh orang sebagai kyai yang memiliki karamah paling tinggi. Ini bukan berarti bahwa bekerja tidak penting dalam kehidupan seorang kyai. Tentu saja kyai juga mempertimbangkan bahwa bekerja adalah wajib bagi setiap muslim.
Faktanya bahwa dugaan otoritas kharismatik seorang kyai mencakup karamahnya yang berpengaruh dalam komunitas pesantren, hal ini berlawanan dengan prediksi weber tentang dominasi rasional-legal otoritas, terutama dalam meningkatkan birokrasi dalam masyarakat. prediksi ini telah dikritik oleh seorang sarjana yang keberatan untuk mempercayai kharisma seorang pemimpin dengan karamahnya. Tetapi pesantren berbeda dengan kelompok ini, khususnya berkenaan dengan kepentingan ekonomi dibalik kemunculannya. Dalam pesantren, penggunaan karomah dalam pemasaran spiritualitas keagamaan merupakan perimbangan yang penting, bahkan tak terelakkan, agar dapat memelihara kekuasaan seseorang.         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an