Hermeneutika Hans-Georg Gadamer


            Hans-Georg Gadamer merupakan penganut aliran hermeneutika obyektivis cum subyektifis. Dalam bukunya “Wahrheit und Methode”  ia menuangkan pokok-pokok pemikirannya mengenai hermeneutika filosofis yang tidak hanya berkaitan dengan teks, melainkan seluruh obyek ilmu sosial dan humaniora. Teori-teori pokok-pokok hermeneutika Gadamer bisa diringkas kedalam beberapa teori:   
Teori “Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah” (histically effected consciousness)
Menurut teori ini, pemahaman seorang penafsir dipengaruhi oleh situasi hermeneutik tertentu yang melingkupinya. Baik itu berupa kultur, tradisi, maupun pengalaman hidup. Karena itu, pada saat menafsirkan sebuah teks seorang penafsir harus sadar bahwa dia berada pada posisi tertentu yang bisa sangat mewarnai pemahamannya terhadap sebuah teks yang sedang ditafsirkan. Pesan dari teori ini adalah bahwa seorang penafsir harus mampu mengatasi subyektifitasnya ketika menafsirkan sebuah teks.  

Teori “Prapemahaman” (pre-understanding)
Keterpengaruhan oleh situasi hermeneutika tertentu membentuk pra-pemahaman pada diri seorang penafsir terhadap teks yang ditafsirkan. Pra-pemahaman yang merupakan posisi awal seorang mufassir harus ada ketika ia membaca teks, tujuannya agar seorang penafsir mampu mendialogkannya dengan isi teks yang ditafsirkan. Pra-pemahaman harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi, dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri ketika dia sadar atau mengetahui bahwa pemahamannya itu tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh teks yang ditafsirkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teks. Kemudian hasil dari koreksi terhadap pra-pemahaman tersebut oleh Gadamer disebut dengan istilah “kesempurnaan pra-pemahaman”    

Teori “Penggabungan/ Asimilasi Horison dan Teori Lingkaran Hermeneutik”
Dalam proses penafsiran, seseorang harus sadar bahwa ada dua horison, yakni cakrawala pengetahuan atau horison di dalam teks dan cakrawala pemahaman atau horison pembaca. Dua bentuk horison ini selalu hadir dalam proses pemahaman dan penafsiran. Keduanya harus dikomunikasikan, sehingga ketegangan antara keduanya dapat diatasi. Oleh karena itu, ketika seseorang membaca teks yang muncul pada masa lalu, maka harus memperhatikan horison historis dimana teks tersebut muncul, diungkapkan, atau ditulis.  Seorang pembaca teks harus mengakui adanya horison lain, yakni horison teks yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan horison pembaca. Memahami sebuah teks berarti membiarkan teks yang dimaksud berbicara. Interaksi anatar dua horison tersebut dinamakan “lingkaran hermeneutik”. Horison pembaca hanya berperan sebagai titik berpijak seseorang dalam memahami teks. Titik pijak disini harus bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Disini terjadi pertemuan antara subyektifitas pembaca dan obyektifitas teks, dimana makna obyektif teks harus didahulukan.

Teori “Penerapan/ Aplikasi (application)”
          Ketika makna obyektif teks telah dipahami, kemudian yang harus dilakukan adalah mempraktikkan pesan-pesan yang terkandung didalamnya kedalam kehidupan sehari-hari. Disisi lain rentang waktu antara munculnya teks tersebut dengan masa ketika seorang mufassir hidup, yang tentunya kondisi sosial, politik, ekonomi, dll juga telah jauh berbeda dengan kondisi pada masa munculnya teks. Contohnya ketika seseorang membaca kitab suci, maka selain proses memahami dan menafsirkan ada satu hal lagi yang dituntut yaitu penerapan pesan-pesan pada masa ketika teks kitab suci itu ditafsirkan. Pertanyaannya, apakah makna obyektif teks terus dipertahankan dan diaplikasikan pada masa ketika seorang penafsir hidup?  Gadamer berpendapat bahwa pesan yang harus diaplikasikan pada masa penafsiran bukan makna literal teks, tetapi meaningful sense (makna yang berarti) atau pesan yang lebih berarti dari daripada sekedar makna literal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dokter Masa Bani Umayyah Andalusia

Ilmu Tawarikh Al-Mutun

Faedah Kisah (Qashash) dalam al-Qur`an