Kitab Al-Adzkar
Kitab
al-Adzkar adalah salah satu kitab hadis sekunder karya Imam an-Nawawi. Kitab ini
merupakan karya terkenal beliau yang
membicarakan pasal-pasal dzikir, doa, dan wirid. Penulisan kitab al-Adzkar
dilatar belakangi ketika beliau melihat
kitab-kitab serupa yang terlalu panjang dikarenakan adanya sanad dan
pengulangan. Oleh karena itu Imam an-Nawawi berniat meringankan orang-orang
yang menginginkan kemudahan. Ia mengumpulkan riwayat-riwayat yang terkait atau
kitab-kitab yang telah membahas masalah dzikir, wirid, doa lalu menghapus
sanad-sanad awal untuk meringkasnya. Sebagai kitab yang terkenal dan banyak
dijadikan rujukan, maka penulis merasa perlu untuk mengkajinya lebih lanjut.
Sejarah panjang
pemhimpunan hadis bukan merupakan suatu pelalaian terhadap hadis. Keberadaan
hadis telah didudukkan oleh sahabat dengan baik. Mereka dengan sangat hati-hati
dalam pengambilannya dalam menetapkan hujjah.
Setelah
dilakukan upaya pembukuan secara resmi pada abad ke-2 H oleh Khalifah Umar bin
Abdul Aziz, maka muncul berbagai ragam kitab hadis dengan metodenya yang
dilakukan oleh ulama mutaqaddimin yang berusaha mencari hadis secara
langsung ke berbagai wilayah guna mendapatkan suatu hadis dan membukukannya. Hasil dari proses tersebut muncullah kitab yang dikenal dengan istilah kitab
induk hadis. Sedangkan ulama mutaakhkhirin mencukupkan diri atas
hadis-hadis yang telah ditulis ulama-ulama sebelumnya. Kadangkala sebagian dari
ulama mutaakhkhirin mengarang sebuah kitab dengan mengutip atau merujuk
kepada kitab-kitab induk yang telah ada sebelumnya. Kitab inilah yang dikenal
dengan istilah kitab hadis sekunder.
Al-Adzkar merupakan salah satu kitab hadis sekunder yang
disusun oleh Imam an-Nawawi. Tergolong kitab sekunder karena dalam proses
penyusunannya, an-Nawawi hanya mengutip dari kitab-kitab induk yang ada
sebelumnya, seperti Kutub al-Tis`ah.
Dalam makalah
ini penulis akan membahas seputar kitab al-Adzkar, baik dari segi
biografi, sejarah penyusunan kitab, metode dan sistematika penulisan, kekhasan
kitab, serta kelebihan dan kekurangan kitab.
Biografi Pengarang
Nama lengkap
Imam an-Nawawi adalah Yahya bin Syaraf bin Murra bin Hasan al-Hizami al-Haurani
yang dipanggil dengan Abu Zakaria, gelarnya Muhyiddin yang dikenal dengan
an-Nawawi karena dinisbatkan kepada asal daerahnya, Nawa. An-Nawawi lahir di
Hauran negeri Syiria pada tahun 631 H. Namun menurut M. Tarsi Hawi dalam Terjemah kitab al-Adzkar,
an-Nawawi dilahirkan di desa Nawa, Damaskus pada bulan Muharram tahun 631 H.
Sejak kecil
an-Nawawi dididik oleh ayahnya yaitu Syaraf Ibnu Muri. Masa kecilnya banya
digunakan untuk membaca dan mempelajari al-Qur`an. Oleh karenanya ia telah
khatam al-Qur`an sebelum mencapai usia baligh. Pada umur 19 tahun, ia dikirim
ke Damaskus oleh ayahnya untuk belajar di Madrasah ar-Rawahiyyah. Dalam waktu
empat setengah bulan ia hafal Tanbih, dan dalam waktu kurang dari
setahun ia hafal Rubu` Ibadat dari kitab Muhaddzab.
Selama hidupnya
ia menyumbangkan seluruh kehidupannya untuk ilmu pengetahuan sampai ia
meninggal pada tanggal 24 Rajab tahun 676 H. Ia berpulang ke Rahmatullah tanpa
meninggalkan keturunan karena ia tidak pernah menikah sebelumnya. Hidupnya disibukkan dengan banyak berdakwah, mengkritik para hakim dan pejabat
demi amar ma`ruf nahi munkar.
Imam an-Nawawi
memang dikenal sebagai ulama yang banyak mewarnai paham madzhabnya, yaitu
madzhab Syafi`i.Ia
terkenal dengan sifat zuhud dan wara`nya. Pengikut ulama salaf dari Ahlu
al-Sunnah wa al-Jamaah. Ia juga seorang Imam dan Muhaqqiq madzhab Syafi`i di
zamannya. Menghafal hadis, baik yang shahih maupun yang cacat.
Murid-muridnya
antara lain yaitu Alauddin Athar, Syamsuddin nbin Naqib, Ibnu Ja`wan, dan
Badaruddin bin Jamaah. Sedang guru-gurunya antara lain yaitu Abi Ibrahim Ishaq
bin Ahmad Maghribiy,Abu Ishaq Ibrahim bin Abi Hafsh Umar bin Mudzar al-Wasithi, Zainuddin Abu
al-Baqa` Khalid bin Yusuf bin Sa`ad al-Ridha bin al-Burhan, dan lainnya.
Pendapat-pendapatnya
banyak dinukil oleh ulama-ulama sesudahnya, sampai sekarang. Diantara buah
karyanya yang sampai sekarang masih dipelajari, ditelaah dan dipergunakan
sebagai dasar penulisan karya-karya ilmiah dan populer yaitu:
1.
Dalam bidang ilmu fikih, seperti syarh al-Muhadzdzab,
Ar-Raudhah, Minhaj al-Thalibin.
2.
Dalam bidang hadis, seperti Syarh Shahih Muslim, Riyadhus
Shalihin, al-Adzkar, Sharh Shahih Bukhari yang tidak sempat selesai karena
beliau wafat.
3.
Dalam ilmu lughat, seperti Tadzhib al-Asma` wa al-Lughat.
Sejarah Penyusunan Kitab
Kitab al-Adzkar
merupakan karya terkenal beliau yang
membicarakan pasal-pasal dzikir, doa, dan wirid. Dalam muqaddimah kitabnya Imam
an-Nawawi menjelaskan terkait penulisan kitab al-Adzkar, hal itu
bermula ketika beliau melihat
kitab-kitab terkait itu terlalu panjang dikarenakan sanad dan pengulangan. Oleh
karena itu Imam an-Nawawi berniat meringankan untuk orang-orang yang
menginginkan kemudahan, beliau mengumpulkan riwayat-riwayat yang terkait atau
kitab-kitab yang telah membahas masalah dzikir, wirid, doa, dll. Beliau
menghapus sanad-sanad awal untuk meringkasnya. Dengan alasan agar dapat
dijadikan objek orang-orang yang beribadah, yang tidak bermaksud untuk
mengetahui sanad-sanadnya. Karena beliau menganggap bahwa sesungguhnya yang
dibutuhkan oleh orang-orang awam adalah mengetahui dzikir-dzikir serta
mengamalkannya, dan memperjelas dugaan-dugaan dzikir bagi orang-orang yang
ingin mencari petunjuk.
Metode dan Sistematika Penulisan
Kitab al-Adzkar
dalam penyusunann terdiri 16 kitab dan
344 bab (kurang lebih), beliau menghapus sanad-sanad dalam riwayat dan
menggantikannya dengan penjelasan apakah hadis itu shahih, hasan, dla`if, atau
mungkar. Beliau tidak menyebutkan dari dasar-dasar yang terkenal tentang yang
dho’if kecuali yang jarang beserta penjelasan kedho’ifannya. Dan kebanyakan
yang disebutkan itu merupakan riwayat
yang shahih.
Dalam
penyusunannya beliau juga menghimpun
beberapa materi tentang ilmu hadis dan fiqih, dan hal-hal penting dalam qawaid,
olahraga-olahraga jiwa, serta tata krama yang sangat perlu diketahui oleh
orang-orang, dengan mencamtumkan
semuanya dengan jelas agar mudah dipahamai oleh orang-orang awam dan yang
hendak ber-tafaqquh.
Pada permulaan
kitab beliau menyebutkan beberapa pasal penting yang dibutuhkan oleh pemilik
kitab dan pemelihara-pemelihara lainnya.
Apabila terdapat sahabat yang tidak terkenal di kalangan masyarakat yang tidak
memperhatikan pengetahuannya, maka beliau, Imam an-Nawawi mencamtumkan kata:
“dari fulan ash-shohaby,” agar tidak ada keraguan atas kesahabatannya.
Dalam kitab ini
Imam an-Nawawi meringkas hadis-hadis
yang terdapat dalam kitab-kitab terkenal yang notabene merupakan dasar-dasar
Islam. seperti: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan
Abi Daud, Tirmidzi, serta Nasai. Sehingga beliau
berkata dalam muqaddimahnya; “saya berharap kitab ini menjadi asas yang
teguh”, dan juga beliau menjelaskan dalam muqaddimahnya bahwa beliau tidak
menyebutkan dalam suatu bab hadis kecuali yang jelas-jelas menjelaskan tentang
permasalahannya.
Kekhasan Kitab
Sebagai
salah satu kitab hadis sekunder al-Adzkar memiliki beberapa
karakteristik khusus, antara lain:
-
Berisi khusus tentang amalan-amalan harian serta dzikir dan doa.
-
Menyebutkan kualitas hadis pada catatan kaki.
-
Menambah kata Ash-Shohaby pada sahabat yang dianggap tidak terlalu
terkenal.
-
Terdapat ayat-ayat Al-Quran sebagai pendukung pemahaman.
-
Mencantumkan penyebab dha’if-nya suatu hadis.
-
Menyertakan ungkapan-ungkapan ulama terdahulu.
Kelebihan dan Kekurangan Kitab
Dalam
sebuah karya pasti terdapat kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari
kitab al-Adzkar antara lain:
-
Ringkas tanpa mengurangi esensi.
-
Mudah dipahami berdasarkan urutan penyusunannya.
-
Kualitas hadis mayoritas sahih.
-
Diambil dari kitab-kitab terpercaya.
Sedangkan kekurangannya yaitu:
-
Sanad hadis tidak tercantum secara lengkap.
-
Tidak semua hadis disebutkan penyebab dho’if-nya.
-
Penulisan nama rawi terlalu umum.
-
Hanya memilih hadis-hadis yang jelas-jelas membahas perkara yang
dimaksud.
Sumber:
Al-Nawawi. 1984. Al-Adzkar.
Terjemah M. Tarsi Hawi. Bandung: Al-Ma`arif.
An-Nawawi. Tt. Al-Adzkar.
Semarang: Toha Putra.
Hidayatullah, Tim Penulis IAIN Syarif. 1992. Ensiklopedi Islam
di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Mursi, Muhammad Sa`id. 2013. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang
Sejarah. terj. Khoerul Amru Harahap dan Ahmad Faozan. Jakarta: Pustaka
al-Kautsar.
Ushuluddin, Dosen Tafsir Hadis Fakultas. 2009. Studi Kitab
Hadis.Yogyakarta: TERAS.
Komentar
Posting Komentar