Masa Remaja Muhammad SAW Hingga Menjelang Pernikahan
Setelah kakeknya
meninggal, Muhammad SAW diasuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Beliau melewati
masa-masa sulit bersama dengan pamannya. Pada masa pertumbuhannya beliau pernah
ikut berdagang bersama pamannya ke Syam, namun semenjak bertemu dengan pendeta
bahira yang mengatakan bahwa dalam diri Muhammad terdapat aura kenabian dan
diperingatkan untuk tidak melanjutkan perjalanannya dengan tujuan agar
terhindar dari orang yahudi, kemudian Muhammad berganti profesi sebagai
penggembala kambing. Pekerjaan seperti itu berguna untuk melatih diri dalam
menentukan kebijaksanaan umum di kemudian hari, membiasakan diri untuk berkasih
sayang terhadap kaum lemah dan senantiasa memberikan perlindungan terhadap
mereka.
Muhammad merupakan
sosok yang istimewa, takdir Allah SWT senantiasa menyertai dan menjaga beliau
dari pandangan yang tidak tepat dan tidak lurus. Pada saat gejolak kejiwaan
menginginkan kesenangan-kesenangan duniawi sekalipun dalam bentuk yang kecil
dan remeh, turunlah inayat ilahi untuk menghindarkan beliau dari persoalan
seperti itu. Seperti dalam hadis yang dirirwayatkan oleh Ibnu Katsir, pada
suatu malam nabi Muhammad yang sedang menggembala kambing berkata kepada teman
yang juga sedang menggembala kambing agar mau menjaga kambingnya karena beliau
ingin pergi ke kota makkah untuk mengikuti pesta sebagaimana yang diikuti oleh
pemuda lainnya pada saat itu, namun ketika sampai di kota Makkah Allah swt
membuat beliau tertidur hingga tidak bisa mengikuti pesta tersebut. Pada malam
lainnya beliau kembali menitipkan kambing gembalaannya pada rekannya dengan
maksud yang sama, namun hal itu kembali terulang, beliau tertidur tanpa sempat
menyaksikan pesta. Sejak saat itu nabi tak pernah lagi memiliki keinginan
buruk.
Dalam hal
memperoleh ilmu pengetahuan, beliau menempuh jalan seperti yang dilakukan datuknya,
Ibrahim as. Beliau tidak memperoleh ilmu dari seorang ahli nujum, pendeta,
ataupun filosof yang hidup pada zamannya. Beliau memperoleh ilmu dengan akal
fikirannya yang cerdas dan fitrahnya yang jernih. Beliau membaca lembaran
kehidupan, mempelajari seluk-beluk manusia dan keadaan masyarakat, sehingga
beliau selamat dari jahatnya ketahayyulan dan terhindar dari hal semacam itu.
Pada waktu
tertentu beliau juga berkecimpung dalam kegiatan umum yang menjadi perhatian
masyarakat pada saat itu, seperti perang Fijjar yaitu peperangan untuk
mempertahankan kesucian bulan-bulan haram (Dzulhijjah, Muharram, Dzulqa`dah,
Dan Rajab) dan membela kedudukan suci. Sedemikian tinggi penghormatan orang
Qurays terhadap tempat dan bulan-bulan suci itu, sehingga bila ada seorang
bertemu dengan orang lain yang membunuh ayahnya di tempat dan bulan-bulan
haram, ia tidak akan melakukan tindakan balas dendam. Setelah islam datang,
tradisi ini diakui kedudukannya dalam agama. Akan tetapi ada beberapa kabilah
yang mengahalalkan bulan-bulan haram tersebut dengan melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang semestinya tidak boleh dilakukan, sehingga
terjadilah perang Fijjar.
Beliau juga turut sebagai saksi dalam perjanjian hifdul-fudhul
(Persekutuan atau perjanjian bersama antara beberapa kabilah Arab untuk saling
bantu dalam mengahadapi musuh bersama). Hifdul-fudhul merupakan persekutuan
yang dibentuk oleh beberapa anak suku kabilah Qurays, mereka bersepakat dan
saling berjanji akan mencegah terjadinya kedzaliman yang dilakukan oleh orang
di Makkah terhadap salah seorang penduduknya atau terhadap orang darimana saja
yang ada dalam kota itu. Mereka merasa berkewajiban menolak dan menentang
setiap kedzaliman yang hendak dilakukan orang.
Menjelang
tahap ketiga dari usianya, beliau tumbuh menjadi sosok pria yang bertubuh kuat,
bertekad baja, dan bermartabat tinggi. Beliau terkenal sangat baik di seluruh
Makkah, berbeda dengan pemuda lainnya, beliau mempunyai airmuka cerah, perilaku
mulia, akal fikiran cerdas, logika yang tepat dan terpercaya dalam segala hal.
Pada masa itu naluri beliau berada pada titik puncak, namun kekuatan rohani dan
kejernihan jiwa beliau dapat menjadikan nalurinya itu sebagai kekuatan yang
menambah keluhuran budi pekertinya, menambah kelurusan akhlaknya dan menambah
kesanggupannya menerima nasib yang sudah menjadi suratan takdirnya. Pribadi
beliu pulalah yang mengantarkannya berkenalan dengan isteri pertamanya,
Khadijah ra. Berawal dari menitipkan barang dagangannya pada Nabi Muhammad
untuk dijul ke syam, hingga pada akhirnya Khadijah tertarik pada pribadi
Muhammad SAW. Setelah melalui beberapa proses akhirnya kedunya pun menikah,
nabi kala itu berusia dua puluh lima tahun dan isterinya, Khadijah, berusia
empat puluh tahun.
Komentar
Posting Komentar