Proses Penerimaan Wahyu Rasulullah Sebagai Nabi
Dikisahkan
dalam Fiqhus Sirahnya Muhammad al-Ghazali bahwa kendati menikah dengan
Khadijah, Rasulullah Tetap melakukan kebiasaan ber`Uzlah. Tujuannya yakni
mengasingkan diri dari kebiasaan buruk masyarakat arab pada masa itu. Hingga
pada usia empat puluh tahun, perenungan dan pengamatannya yang dilakukan
sebelumnya telah menjadi jurang perpisahan fikiran yang lebar antara beliau dan
kaumnya. Pandangan beliau lebih terbuka daripada masyarakat lainnya.
Tiap
tahun Rasulullah saw meninggalkan Makkah untuk menghabiskan bulan Ramadhan di
Goa Hira, yaitu sebuah Goa yang terletak beberapa mil dari kota Makkah dan
terletak di puncak bukit pegunungan diatas kota Makkah. Sebuah tempat yang
terasing dari orang-orang yang gemar berbuat dusta dan berbicara buruk, tempat
mendapatkan ketenangan didalam keheningan. Di puncak ketinggian itulan Muhammad
ber`uzlah, memutuskan hubungan dengan segala macam kehidupan duniawi dan
memusatkan segala fikiran dan hatinya yang sangat rindu kepada Allah penguasa
alam semesta.
Didalam
goa yang sunyi, beliau merenungkan gelombang kehidupan manusia di dunia yang
penuh malapetaka, kehancuran, permusuhan, dan kerusakan. Beliau merasa sedih
dan resah karena tidak menemukan jalan keluar bagaimana cara mengatasinya.
Didalam goa itu pula Muhammad bersembah sujud, mengasah hati, menjernihkan roh
dan jiwa, mendekatkan diri kepada kebenaran dan menjauhkan dari kebatilan
dengan seluruh kemampuan dan kesanggupannya sembari membayangkan pusaka hidayat
yang diterima oleh nabi sebelumnya.
Pada
akhirnya sampailah beliau pada martabat yang tinggi yang memantulkan cahaya rahasia ghaib diatas
lembaran terbuka, hingga tak ada impian yang dilihatnya kecuali sebagai
pancaran cahaya yang muncul saat fajar menyingsing. Didalam goa itulah beliau
berhubungan dengan al-mala`ul-a`la (malaikat). Pada saat itu Muhammad dalam
keadaan terperanjat dan gemetar mendengarkan suara malaikat berkata:
“Bacalah....” beliau menjawab: “aku tidak dapat membaca”. Dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Aisyah, kemudian malaikat jibril mendekati dan memeluk
nabi Muhammad sehingga beliau merasa lemah sekali lalu dilepaskan, hingga dua
kali hal itu terulang dan nabi pun menjawab dengan kata yang sama. Lalu pada kali
ketiga malaikat kembali berkata “bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah
menciptakan.....menciptakan manusia dari segumpal darah ...” dan seterusnya. Itulah
yang kemudian menjadi ayat-ayat al-Qur`an yang turun pertama (al-`Alaq 1-5).
Setelah itu Rasulullah segera pulang
dalam keadaan sekujur tubuh gemetar dan ketakutan. Setibanya di depan
isterinya, beliau berkata: “selimutilah aku... selimutilah aku”. Beliau
kemudian diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu beliau menceritakan
peristiwa yang baru dialaminya kepada istrinya, khadijah. Beliau berkata: “aku
sesungguhnya khawatir terhadap diriku”. Lalu Khadijah mengajak nabi menemui
Waraqah bin Naufal, salah satu paman Khadijah. Pamannya berkata bahwa itu
merupakan malaikat yang juga diturunkan pada nabi musa, Waraqah juga berkata,
jika suatu saat Rasulullah mengalami masa kenabian dan ia masih hidup maka
waraqah berjanji akan membantu dengan sekuat tenaga. Namun kenyataannya tak
lama kemudian waraqah meninggal dan dalam beberapa lama Rasul belum menerima wahyu.
Komentar
Posting Komentar