Hijrah ke Madinah dan Maknanya bagi Kehidupan Kontemporer
Sebelum Rasulullah
hijrah ke Madinah, telah banyak sahabat yang diperintah untuk hijrah terlebih
dahulu oleh beliau. Mereka meninggalkan Makkah karena kota tersebut dianggap
sudah tidak aman lagi untuk ditinggali oleh orang muslim. Para kafir Qurays
merencanakan kejahatan yang ditujukan kepada umat muslim Makkah. Sebelum
terlaksana, Rasul memerintah semua sahabat yang berada di makkah dan termasuk
yang sudah hijrah terlebih dahulu ke Habasyah agar menuju Madinah. Kecuali Ali
bin abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diperintah untuk tetap tinggal di
Makkah menemani beliau. Diceritakan dalam Fiqhus Sirah Imam Ghazali, bahwa
sebenarnya Abu Bakar meminta Ijin kepada Rasul untuk berangkat ke Madinah
terlebih dahulu bersama dengan muslimin lainnya. Namun jawaban Rasulullah yakni
“ Jangan tergesa-gesa, mungkin Allah akan memberimu seorang sahabat” saat itu
Abu Bakar merasa bahwa yang dimaksud sahabat dalam perkataan beliau adalah
Rasulullah sendiri. Sebagai seorang nabi, Rasulullah tentunya telah dijamin
keselamatannya oleh Allah SWT. Namun beliau tetap dengan teliti dan cermat
merencanakan langkah-langkah yang akan diambil sebagai persiapan hijrah dan
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebagai bekal.
Ia membeli dua ekor unta yang disembunyikan di dalam
rumahnya dan diberi makanan secukupnya sebagai persiapan untuk kendaraan
berangkat hijrah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib ra beliau persiapkan untuk
memainkan peranan khusus dalam
menghadapi langkah-langkah yang penuh dengan bahaya.
Setelah mendapat
perintah hijrah dari Allah, Rasulullah mendatangi rumah Abu Bakar dan
menyampaikan maksudnya agar ia menemani Rasul dalam perjalanan. Rasulullah
mengupah seorang pemandu yakni `Abdullah bin Uraiqith untuk menunjukkan jalan.
Dua ekor unta yang telah dipersiapkan kemusdian diserahkan kepada Uraiqith agar
digembalakan hingga waktu keberangkatannya tiba. Mengenai Ali bin Abi Thalib,
ia diperintahkan oleh Rasul untuk menunda keberangkatannya hingga selesai
mengembalikan barang-barang titipan orang lain yang ada pada Rasulullah. Pada
Masa itu setiap orang di Makkah yang merasa khawatir terhadap barang-barang
miliknya yang berharga, mereka selalu menitipkannya pada Rasulullah. Karena
beliau terkenal dengan sikap jujurnya.
Ketika tiba
waktunya, mereka berangkat ke tempat persembunyian yang dipilih oleh mereka antisipasi
jikalau mereka dikejar oleh orang Qurays, dan mereka memilih Goa Tsur sebagai
tempat persembunuyian, tak lupa pula mereka menunjuk orang dengan tugas
masing-masing untuk membantu mereka ketika dalam persembunyian. Sebelum
berangkat Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib memakai pakaian yang biasa
dipakai tidur oleh beliau dan berbaring di tempat tidur beliau. Rasulullah dan
Abu Bakar keluar melalui pintu belakang menuju Goa Tsur.
Sebelum berangkat, Abu Bakar juga meninggalkan pesan kepada anak
lelakinya agar menyampaikan seluruh kabar yang beredar di Makkah terkait dengan
Rasulullah ke Goa Tsur, ia juga menyuruh Amir bin Fuhairah agar mengembala
kambingnya di siang hari dan mengantarnya ke Goa pada sore hari untuk diperah
susunya. Di luar sana para kafir Qurays sedang mencari Rasul ke jalan-jalan
menuju Madinah, kemudian tibalah salah satu kelompok mereka di dekat goa Tsur
namun atas perlindungan Allah mereka tidak dapat menemukan Rasulullah dan kembali
pulang ke Makkah. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ketilka mereka tiba di mulut
Goa Tsur, terlihat jaring laba-laba memenuhi pintu masuknya sehingga mereka
menyimpulkan bahwa tidak mungkin ada orang masuk di dalam goa tanpa merusak
jaring laba-laba tersebut.
Setelah tiga hari tiga malam bersembunyi di dalam goa mereka
memutuskan berangkat ke Madinah bersama pemandu yang telah disewa Rasul yang
datang tepat waktu dengan membawa unta yang telah dipersiapkan. Ditengah
perjalanna mereka bertemu dengan Suraqah
yang mencoba untuk membunuh Rasul namun tidak berhasil karena kudanya
terantuk dan ia terhempas dari punggung kuda, hal yang tak biasa terjadi.
Karena hal itu Suraqah percaya bahwa Rasulullah memang pembawa kebenaran ilahi.
Setelah melalui perjalanan berat akhirnya beliau tiba di Madinah dengan
selamat. Kedatangan beliau disambut gembira oleh masyarakat madinah, baik dari
kaum Anshar maupun Muhajirin.
Maknanya
bagi kehidupan kontemporer yaitu kita harus berani dalam menegakkan kebenaran
dan keadilan. Dan jika akan melakukan sesuatu hendaknya dipersiapkan dengan
matang terlebih dahulu agar hasilnya juga maksimal.
Komentar
Posting Komentar